Sang mentari mulai menampakkan
sinarnya menembus batas jingga yang menutupi cakrawala. Daun daun berjatuhan
tertiup semilir angin. Aku
mulai menikmati perjalanan pagi ini dengan secangkir kopi di tangan, kubiarkan tubuhku
terguncang roda kereta yang mulai melaju meninggalkan stasiun.
Jogja, kota yang sangat eksotik. Membuatku ingin
sekali sampai disana detik ini juga. Hhh... sebenarnya aku sudah menumpuk
rasa kangen ini lama..... sekali.
Tapi bagaimanapun juga aku harus
menyelesaikan studiku di Jakarta. Ayah... Bunda...Ira. Aku kangen banget
sama kalian.
Jogja, 3 jam-an lagi aku akan menginjak tanah
kelahiranku setelah selama 5 tahun aku meninggalkan Jogja seperti apakah kini?
Apakah mungkin sesorang yang selalu
setia di hatiku itu masih menyimpan perasaan itu padaku?” batinku memendam
harap.
”Ingat Lan kamu udah ada yang punya, lagian mana mungkin
sih 5 tahun dia bisa setia nunggu harapan yang nggak pasti, dari orang kayak kamu
lagi” bisik
hatiku memberikan mendung yang kembali menyadarkanku tentang keadaanku saat
ini.
“Mau koran..??” satu suara memecah
kebisuanku yang dari tadi memang sengaja tak bersuara. Aku berusaha untuk
tidak menampilkan ekspresi kagetku.Terlihat seorang cowok yang tersenyum sangat
hangat padaku.Tangannya yang putih mengulurkan koran harian edisi hari ini. Buru-buru kualihkan
pandanganku dari cowok tersebut.
”Inget Lan, kamu udah ada yang
punya.Jangan kotori hatimu dengan orang lain” satu bisik halus
mengembalikan batas sadarku.
“Makasih, nggak usah nanti
ngrepotin” tolakku
halus.”Nggak ngrepotin kok maksudku sekalian cari teman ngobrol. Aku lihat kamu dari
tadi ngelamun terus kayak ada masalah yang berat banget kebetulan aku juga lagi
suntuk nggak ada teman ngobrol. And if you can, I want to sharing with
you about my problem. Because
in this train if I see you have a wise
face”.
Mau tidak mau aku cukup tersanjung
dengan omongannya barusan. ”Mmm....
it’s okay..” bibirku
mengembang membentuk sekulum senyum yang menurutku cukup manis. Semanis langit
pagi ini.
“So..?” ucapku akhirnya.”Can
I sit here?”. ”Yep,sure”. Pandanganku tertoleh
ke bangku sampingku yang kosong.
Sejenak kebisuan meliputi kami. Aku hanya sibuk
memainkan jemariku sedangkan dia... kulihat dia sedang sibuk meremas-remas
rambutnya yang bisa kubilang sangat keren. Sungguh ini seperti
mimpi bagiku tiba-tiba saja saat hari masih sepagi ini ada seorang pangeran
duduk disampingku dan mengajakku ngobrol. Woow... dan gawatnya dia benar-benar
membuatku terpana with his ebony eyes, pointed nose, and the tall body. Mmmm....ideal
“What’s problem?” tanyaku akhirnya
dengan berusaha menetralkan perasaanku.
“I
don’t know, suddenly
aah...!!!!!” tiba-tiba
saja dia menjerit tertahan, walau begitu penumpang di seberang
kami menoleh dengan raut muka keheranan. Dan aku berusaha menjawab dengan
senyum pertanda tidak terjadi apa-apa disini.
Sebenarnya akupun heran. Bagaimana tidak, tiba-tiba
saja ada seorang cowok yang menawarkan koran padaku lalu mengajakku ngobrol dan
tiba-tiba saja dia kelihatan seperti sangat depresi. Ada apa sebenarnya???
“Just rileks please....!”. Dia terlihat menarik
napas dalam-dalam. ”Kalau
boleh aku mau minta pendapatmu. About something that make me so confuse, but I dont want to
talk it . So...
aku bingung mau bilang sama kamu pake cara apa”
Lama kami sama-sama terdiam tidak
tahu apa yang mesti harus diperbuat.
“Ada dua alternatif untuk ini. Kamu sms aku dan
ceritakan apa masalahmu yang kedua kamu sediakan kertas dan kamu ceritakan
semuanya”. Tiba-tiba
saja aku merasa menjadi orang paling penting sedunia “kok kayak psikolog gini
sih hi hi hi” batinku
sambil keheranan
Jujur sifatku yang mudah empati
dengan orang lain mendorongku untuk memberi perhatian lebih pada lelaki ini siapa
tahu aku bisa meringankan masalahnya yah... paling tidak.
Akhirnya dia memilih menuliskan
semuanya di selembar kertas yang di masa
depan kusebut sebagai kertas penyesalan.
“suatu hari seorang pangeran yang tampan bertemu dengan seorang putri
dari mas lalunya yang sangat dia cintai. Namun rasa cinta itu
terpaksa dikuburnya dalam-dalam mengingat sang putri tlah pergi meninggalkannya. Sejak
saat itu dia mencoba mencintai putri lain yang ternyata sangat mencintainya. Namun
suatu hari dia bertemu dengan putri yang dulu sangat dicintainya.Saat rasa
cinta itu masih ada putri itu datang namun dia tak mungkin meninggalkan putri
lainnya yang selama ini tlah menemani dan mencintainya. Namun dia masih sangat
mencintai putri dari masa lalunya tersebut walau pangeran harus memendam rasa
itu dalam-dalam dan hanya bisa menggantung perasaannya. Karena
jujur a pangeran takut jika dia harus patah hati jika nanti perasaan itu
diungkapkan. Kini
pangeraN harus benar-benar memilih siapa yang akan PANGERAN cintai sepenuhnya
sebagai pelabuhan cinta terakhirrnya”.
Lama, kucoba resapi semua
yang menjadi masalahnya.Hingga akhirnya aku mengambil kertas itu dari tangannya
dan menuliskan sesuatu yang menurutku paling benar saat itu.
Bersyukurlah
pangeran karena dia telah merasakn bagaimana sakitnya mencintai tanpa harapan
pasti. Paling
tidak pangeran bisa menghargai putri yang telah mencintainya dengan sepenuhnya
karena pangeran tak ingin rasa yang sama harus dirasakan sang putri. Saat
orang yang dicintainya tak tahu perasaannya dan ia menantinya dengan perasaan
cemas dan luka.Menurutku... pangeran lebih baik mencintai putri yang telah
mencintainya sepenuh hati. Karena
putri itu telah menerima kekurangan pangeran kalau tidak mana mungkin ia
mencintai pangeran??? Lebih
baik berusaha mencintai orang yang benar-benar mencintai kita daripada harus
menggantung perasaan cinta pada orang yang belum tentu mencintai kita.
Kuserahkan kertas itu padanya,
dengan penuh perhatian dia membacanya seakan-akan dia telah masuk ke dalam
duniaku yang telah kuciptakan di selembar kertas tersebut.
Tatapannya menyimpan luka ynag
mendalam. Ada
kabut di matanya sepertinya kabut itu membawa nuansa duka yang sangat tajam.
Tiba-tiba dia beranjak pergi dari
bangku di sebelahku. ”Hey...
mau kemana?” tanyaku
padanya. ”Ijust
think about this” dia
mengacungkan kertas itu padaku.
Aku menganguk.”Biar sajalah sesorang
memang butuh waktu untuk memikirka yang terbaik untuk dipilihnya sebagai jalan
hidup” batinku
pelan.
Dan episode perjalananku di kereta
berakhir disitu.Karena aku segera menginjakkan tanah kelahiranlu itu.Jogja.
***
Sampai di stasiun jogja,aku segera
naik angkutan kota jurusan UGM,sengaja aku nggak ke rumah lebih dulu.
Rencananya aku pingin mampir di UGM sebentar buat nunggu Melati selesai
kuliahnya lalu aku akan ngobrol tentang banyak hal yang mulai berubah di Jogja.
Di UGM,aku sampai disana kira-kira pukul 10pagi.Dan
aku ketemu dengan temen-temen lama SMA .
Mulai Sisi si kutu buku yang nggak
tahu kenapa sekarang jadi gaul..... abies,Edo cowok blasteran Belanda Padang
yang dulu sempet naksir aku tapi kutolak gara-gara nenek moyangnya pernah jajah
negara kita(tapi itu sih cuma alasan klise yang sengaja kubuat-buat hahaha...)
habis orangnya protektif banget sih ,Reni bawel,sampe si Nadia yang dulunya
sempat jadi cover girl di salah satu majalah remaja terkenal.
Setengah jam-an lah aku
ngobrol-ngobrol sama Reni ma Edo ,but where is Melati??? Kebetulan Reni ma
Melati satu fakultas dan Reni udah ngobrol sama aku 15 menit yang
lalu.
Tapi kok Melati nggak dateng-dateng
padahal udah kusms berkali-kali biar dia tahu aku nungguin di kantin.Bukan
apa-apa tapi aku kangen berat nih...maklum di SMA dia sobatku yang paling dekat
sama aku.Yah BFF gitu loh...Best Friend Forever.
Sampai jam satu aku nungguin dia
tapi kok nggakmuncul-muncul .Ceritanya lumutan nih saking lama nunggunya.Gila
ah secara seorang Lani disuruh nunggu 90 menit.Oh nooo....back to home aja
lach...
Sampai rumah Ayah ma Bunda
pergi.Katanya sih ke hajatannya teman
lama.
Untung
De’ Ira di rumah jadilah dia heboh sendiri menyambutku.
“Mbak Lani....... aku kangen banget
kenapa baru pulang si...hhh?”Ira langsung berlari menghambur memelukku.Aku cuma senyum-senyum sendiri
lihat tingkahnya yang segitunya.
“Dek aku bawa oleh-oleh buat
kamu.Dilihat ya”.”Oh my good... kakakku baik banget.Mmm..... aku juga punya
banyak cerita sama kamu jadi siap-siap dengerin aja ya”
“Emang oleh-oleh buat aku apa
sih?”tanyanya sambil misuh-misuh .” Aku bawain kamera dek buat kamu.Kamu suka
jurnalistik kan?”.”Ahh Mbak Lani kirain apaan
sorry ya mbak tapi sekarang aku nggak suka lagi sama jurnalistik”.
”Lho.. emang kenapa dek,kayaknya kemarin
mbak buka FB kamu bilang suka jurnalistik?”tanyaku keheranan”Yah... berarti
hadiahku sia-sia dong padhal buat beli kamera ini aku mesti ngumpulin setengah
uang jajanku bulan kemarin”batinku.
“Habis,aku dah putus sama Ryan.Dia
selingkuh mbak sama rivalku.Dan aku nggak bisa nyalahin cos aku juga ngrebut
Ryan dari Jihan.Padhal yang bikin aku seneng sama jurnalistik ya si Ryan itu.”
“Hahahah.... dek dek kamu tuh
ada-ada aja.Berarti kalau kamu pacaran sama orang yang suka sama marmut berarti
kamu juga harus suka sama marmut dong.Hahaha....”
“Ih.Lani jangan gitu dong masa sama
marmut nggak gitu banget kali.Lagian siapa mau pacaran sama penyuka marmut.Ih,jijay
bajay.”Ira berlalu meninggalkanku .Hihihi
***
Malamnya keluargaku merayakan
kepulanganku dengan makan-makan bersama di Restoran Chineese kesukaanku(gaya
dikit euy).
“Waitress,the menu please”Ira
menjentikkan jarinya dengan penuh gaya.Aku ketawa
aja
liat gayanya kayak gitu.
“Surprisse,baby.”ujar bunda dengan
pandangan penuh arti.Dan... ini memang benar-benar surprisse buatku.Bunda pesen
hampir semua menu istimewa di resto ini.Oh my good..
Setelah itu papa mengajak kami
jalan-jalan malam keliling Malioboro. Dan tentu saja aku memulai hobiku buat mengoleksi pernak-pernik assesoris. Hi hi hi lumayan
jarang-jarang ada moment seistimewa ini. ”Mbak,beli yang ini aja Ithink...
silver itu lebih baik daripada hitam deh” tanyanya sambil memilin-milin kalung
yang lolos kuseleksi itu.
Dan akhir dari story malam ini
semuanya HAPPY ENDING.
***
So paginya aku harus memulai
planning-planningku di kota ini untuk hari pertama. Oh ya ada satu moment
yang sempat terlupa tadi malam aku
sempet online-an sama Melati. And that...
Me : Met
malem gimana kabarnya, Mel? Tahu
nggak aku udah balik ke Jogja dan tadi aku sempat nunggu kamu di kantin kampus
tapi kok kamu nggak muncul-muncul padahal aku kangen bangt sama kamu.
She : Aduh
Lan sorry.. banget aku tadi lagi ngurus skripsi. Kamu sih enak udah
lulus, nah
aku kapan juga ini mau lulus.
Me : kalau
besok kamu ada free time nggak??
She : mmm...
ada .Mau ketemuan?? aku
kangen nih
Me : Oke. I miss
u too..Besok pagi kutunggu jam 9 di cafe Akiratsu. Salam
BFF ya. Ha
ha ha ha...
She : Ha
ha ha. Good
night.
***
Jam
09.00 wib Akiratsu Cafe
“Gila.... jadi feminim banget kamu Lan..!!!” seru Melati saat
melihatku. ”It’s
surprisse for you baby”ujarku sambil tersenyum simpul.
Hhhmp kalau dipikir-pikr emang hari
ini aku jadi lebih feminim. Tapi nggak banget kok... Biasanya di Jakarta
juga aku stylenya beginian.
Ya iyalah of course aku jadi feminim
di matanya dia. Orang
dulu kalau aku lihat styleku dulu waktu terakhir ketemuan ma Amel rambutku
kusanggul masukin topi pake baju cowok. Nah sekarang aku pake rok, rambut
kugerai pake bandana lagi.
“Kamu mau aku kayak cowok lagi kayak
dulu itu. Bukannya
sebagai perempuan kita mesti menjadi apa
yang semestinya dikodratin ama kita. Kapan nyusul???” tantangku. Eehh dianya malah
cengar-cengir.
Melati yang dulu sama Melati
sekarang nggak jauh beda. Melati dengan celana pendek selutut
dan kaus hitam pendek. Namanya
sih memang Melati tapie style of lifenya dia bener-bener nge- boy abieesss. Dan itulah yang bikin aku
suka dari Melati, nggak terlalu peduli
dengan fashion.
Oh ya dia juga nggak suka kalau
dipangil Melati. Gadis
manis yang masih keturunan ningrat dari Sri Sultan HB itu lebih suka dipanggil
Amel. ”Ya suka-suka aku dong. Emangnya
siapa yang punya hidup. It’s my life” jawabnay saat ditanya
eyang kakungnya yang terkenal kejawen tulen.
Dan akhir cerita dari kisahnya
saat itu.Katanya sihh... dia langsung dihukum
sama romonya disuruh belajar
unggah-ungguh tatakrama dari sepupunya Astika yang katanya bener-bener
nge-princess gitu deh stylenya. Hihihi...
Ups, balik ke topik. Aku langsung ke meja yang kayaknya emang sengaja
udah dipesen sama Amel.
Kulihat dia duluan yang dateng.He he aku cengar-cengir pasang muka tanpa dosa. Kalo nggak salah
aku udah telat sepuluh menit dari
perjanjian awal.
Dia membiarkanku duduk. “Kok
telat...”gerutunya.”Biasa Indonesia nggak jam karet nggak spesial dong” jawabku kalem.
“Iya percaya yang udah jadi orang
Jakarta. Jadi
kebiasaan nelat deh....”
“Eh jangan gitu ya. Di Jakarta aku malah
nggak pernah telat. Habis
Jogja sekarang banyak perubahan jadi tadi aku sempet lupa arah jalan” ujarku malu.
Tadi
aku emang sempet lupa arah jalan, ternyata arah ke kafe udah dibangun jembatan
baru .Ya wislah the end of my story aku musti muter-muter dulu cari jalan.
“Habis yang bikin jalan nggak
bilang-bilang sama aku sih kalo mau mbuat jalan baru”kilahku sambil mesam-mesem
“Ya elah mbakyu..... ngapain bilang
ke situ. Emang
siapa situ siapa dia. ...”
“Ya
kan bisa sms. Lani yang cantik, ini jembatan udah saya bikinkan khusus buat
kamu lho.....besok klo kamu balik ke Jogja silahkan dinikmati ya...”
“Hahaha... kayak jalan punya mbah buyutmu aja. Mbak Lani nunggu
seabad lagi ya soalnya smsnya itu agak lola udah dikirimin dari kemarin Cuma ya gitu deh....”
“Siap bos......” jawabku sambil hormat
gaya tentara mau berangkat perang.
“Tapi serius deh Lan, kamu sekarang
tambah cantik. Style
mu itu loh.....ya ampun gibolll. Bayangin seorang Lani yang kata orang
ngeboy abiesss auwww.. ”Buru-buru
kucubit dia abis ngapain sih dikomentarin terus orang ini kan aku pingin
berubah biar jadi perempuan sejati”.
“Udah deh nggak usah komentar terus. Ehh ngomong-ngomong
kamu udah punya pacar belum Mel?”
“Ah, si Lani mah katrok aku udah mau
tunangan Lan.... “
“Beneran Mel? Sama siapa?Orangnya
cakep nggak? Tajir
nggak?” ujarku memberondong pertanyaan.
“Aduh si Lani ini kalau tanya
satu-satu atuh Mbak. Aku
bilangin ya... pokoknya orangnya itu dulu satu almamater kita di SMA. Cakep, tajir, pinter, suka menolong and
nggak sombong. Sayang
orangnya dulu kurang deket ama kita.Jadi.... ya gitu deh”.
“Siapa sih Mel?”
“Besok kamu juga bakalan tau kok.
Tenang aja...”
“Siapa dong Mel nama panggilannya
aja deh” tawarku
“Udah ah besok kamu juga bakal tau.
By the way kamu selasa ada acara nggak. Kalo nggak ada temenin aku ke jalan
yuk cari souvenir..!!Yuk, masak Lani nggak nemenin Amel sih kan BFF “rajuknya
manja.
“Iya. Iya ,besok coba tak luangin
waktu buat mbak Amelku tersayang ini”
“Nah gitu dong..kalo kamu udah punya
belum?”
“Hhhm... udah sih tapi nggak tahu
nih hatiku malah lagi nunggu seseorang yang lain”. “Lho kok?”
“Ada seseorang dari masa lalu yang
aku tunggu. Nggak
tahu yang ditunggu nyadar apa nggak.”
“Emang siapa sih Lan? Kok kayaknya
kamu berharap banget”.”Dulu SMA satu sekolah sama kita.Tapi kamu nggak bakalan
nyangka udahlah...”
“Eh sampe lupa, belum pesen menu
lho” cetusku
mengingatkan. ”Mbak...” teriakku memanggil
waitress yang jalan 3 meja dari mejaku.
“Pesen apa mbak” ujar waitress itu
akhirnya. ”Capuccino
dua mbak .Yang spesial ya...”kataku sambil menunjuk daftar menu.
“Bener kan?” tanyaku pada Amel
selepas si mbaknya pergi”Bener kok ,aku seneng aja kamu masih inget menu
favorit kita”
“Of course lah.Never forget forever”
Dan obrolan-obrolan lain mengiringi
kami setelah capuccino itu datang.Menarik, banyak hal yang kami obrolkan.Enggak
tahu kenapa kalau sama Amel semua topik bisa jadi bahan obrolan.Tapi kalau sama
yang lain.Aduh jangan tanya deh.Harus mereka yang ngawalin soalnya lidahku rasanya
kelu buat ngawalin obrolan.
***
“Lan, tadi Devan telfon sayang. Katanya udah
berkali-kali nelfon ke hpmu nggak diangkat-angkat. Dari nada bicaranya
kayaknya ada hal penting yang mau dibicarain sama kamu deh nak” kata mama di
dapur selepasku dari kafe.
“Mmm iya Ma, emang hpku
kumatiiin,abisnya lagi bosen nih Ma sama dia” ujarku. Maaf ma Lani bohong.
“Lho sama pacar sendiri kok bosen. Nggak boleh gitu lo sayang. Nggak baik lo mainin perasaan orang”
“Abis gimana coba Ma selama ini
Devan terlalu sibuk sama runtinitasnya hubungan kami juga datar-datar aja”.Sakit.
“Oh ya udahlah kalau kayak gitu
masalahnya. Tapi
Lan sebisa mungkin nggak ada yang saling terpaksa dengan hubungan kalian. Kalau ada yang terpaksa nanti urusannya tambah runyam.
Lebih baik kalo banyak masalah diakhiri saja” kata mama penuh pengertian.
“Iya mamaku yang cantik. Makasih nasehatnya. By the way lagi
ngapain Mam kok tumben di dapur?”
“Ini lagi mau masak buat makan malam
nanti. Mau
bantu-bantu apa, kok
tanya-tanya segala?”
“Emang nati malem ada acara spesial
Ma?”. Sambil
bercakap-cakap tanganku sibuk mencuci piring dan gelas yang kotor di
wastafel.Nggak tahu kenapa hatiku selalu nggak tenang kalo lihat piring sama
gelas kotor.
So, kalo aku pulang Mbok Yem pasti
seneng cause bakalan ada tukang cuci tambahan.Ya nggak papalah sekali-kali
bantuin Mbok Yem. Lagian
tugas Mbok Yem pasti berat. So
nggak ada salahnya kan baik sama pembantu?Hehehe…….
“Nggak ada apa-apa sih. Cuma kan udah jadi
tekad Mama pokoknya mulai bulan ini urusan masak buat keluarga harus mama yang
nyelesaian.” ujar
mama bersemanagat kayak gayanya Bung
Karno waktu pidato di Lapangan Ikada. Hehehe
Aku cuma bisa mesam-mesem liat Mama
“Ya syukur deh kalo Mama mau berubah. Tapi kok mama mau-maunya bikin tekad
kayak gitu. Dapat
motivasi darimana Mam?” tanganku
masih sibuk membereskan piring dan gelas yang sudah bersih sehabis kucuci.
“Hhmmmp kemarin waktu Mama arisan ibu-ibu PKK di kampung. Ibu-ibunya pada
mbahasin resep-resep masakan kesukaan suaminya. Waktu Mama ditanyain
apa makanan kesukaan Papa ya jelas mama nggak tahu kan mama .....hehehehe” ujar Mama sambil tersenyum malu.Muka mama merah
banget. Ya,
mama sih terlalu sibuk sama urusan butik. Jadi kayak gitu deh.
Aku geli pingin ketawa.Tapi nggaklah.Nggak tega.Hihihi “Ya udah ya Ma
Lani ke kamar dulu. Bantu-bantunya besok aja, pumpung Mama sekarang
lagi rajin, jadi sendiri pasti bisa”
“Huh
,dasar anak wadon. Udah
gadis kok nggak mau bantu-bantu mamanya”.
“Peace ma”seruku sambil meringis,
mending ke atas aja lah. Aku Aku pinginnya sih mau surfing cari-cari
kerjaan siapa tau ada yang menarik. Tapi waktu lihat laptopku lagi di pake
sama Ira aku tahu niat itu nggak bakal kesampaian. Cause siapapun
penghuni rumah tahu kalau Ira lagi di depan laptop or notebook atau apalah
semua benda yang ada di sekelilingnya bakal berubah wujud jadi batu. Sihir kali
ya...hihihi
Tapi bener deh, Ira kalau ketemu
benda yang satu ini bakalan lengket terus kayak perangko sama surat. Pasti semuanya bakal
tanya kenapa papa nggak pernah berpikiran beliin Ira laptop atau bahkan
notebook sekalipun, cause kami tahu dan
hapal ketika dia dibeliin atau bahkan cuma dipinjemin sekalipun barang-barang
idolanya, yakin
deh nggak bakalan lama awetnya.
So, akhirnya aku mutusin
buat keluar cari angin aja lah. Daripada di rumah
ngak ada kerjaan. Nggak lupa handycam
kesayanganku kubawa. Siapa
tahu di luar ada pemandangan menarik. Hunting foto bo!!!
Kalau bicara about hunting.Hunting and jurnalistik emang jadi salah satu hobiku
.Tapi herannya nggak ada pikiran ke depan
biar aku jadi wartawan atau jurnalis sekalipun.
Hari ini aku hunting-in Malioboro. Rasanya kangen banget udah
lama nggak ke tempat eksotik itu. Motorku kuparkir di parkiran jalan ,enogh to
walk .Jalan aja ngak tahu kemana.
Sekarang di tempat yang dijuluk The
Broadway of Jogja oleh komponis tanah air tercinta Ismail Marzuki dan Usmar
Ismail dalam lagunya Malioboro bener-bener berubah. Pokoknya sekarang semua jadi
seba asing. Malioboro yang makin hari makin sesak plus sumpek. Pedagang-
pedagang lesehen yang mau nggak mau bakalan nyerminin kondisi this my beloved
city tercecer dimana-mana.
Bahkan banyak teman yang bilang
sekarang Malioboro bau pesing di beberapa part placenya.Ya nggak papalah
mungkin itu cuma sementara. Sebagai warga Jogja yang baik aku
percaya aja pemerintah bakal memperbaiki semua ini.
Sengaja
abis muter-muter lama aku mampir di warung angkringan, my favorite place dulu
waktu masih SMA. And you know what, dear baby aku ketemu lagi sama cowok yang
kemarin ketemu di kereta.
“Mbak wedang rondenya satu ya mbak”
pesanku pada si mbak penjualnya. ”Saya juga mbak” ujar sebuah suara di sebelahku. Refleks aku noleh ke
si empunya suara itu. Kok
bisa-bisanya nyama-nyamain sih, pikirku.
“Kamu...!!!!” aku terlonjak kaget. Ups, ternyata dia cowok
keren bin gila yang kemarin ketemu di kereta. ”Hai apa
kabar?”senyumku mengembang. Aduh,dia juga balas senyum. Kerennya....batinku.
”Lani..... udah ada Devan di hidupmu, nggak usah mikir yang
aneh-aneh deh” sisi
hatiku yang lain mengingatkanku.
”Baik.Kamu?Masih ingat aku?”serunya ceria.
“Of course lah, siapa sih yang nggak
kenal sama cowok yang tiba-tiba aja teriak histeris di gerbong kereta yang lagi
sepi-sepinya.Persis orang gila”sindirku. Eeh, dianya malah ketawa
pake tampang tanpa dosa.
“Sorry ,kemarin aku emang lagi agak
stress”.
”Nggak agak tapi emang”balasku
ketus. “Iya deh, iya.Oh ya, kita kan belum kenalan.Kenalin aku.....”belum
sempat si cowok nyelesain omongannya yang super nggak mutu itu aku dah
nyambung.
“Emang siapa yang mau kenalan sama
kamu!!!” usilku.Sebenaranya nggak tega juga sih abis setelah aku bilang kayak
gitu dianya malahan mati gaya gitu. Tapi ya.. udahlah sekalian waspada sama
orang yang belum dikenal .
“Iya deh iya... aku Lani
.Kamu?”cetusku tiba-tiba setelah kami saling berdiam diri cukup lama.Sudenly,
ada rasa kaget di mukanya yang cool itu. “Kamu Lani?”. Wajah cowok itu mengungkapakan
kebingungan yang terlalu kentara buatku.
“Bingung deh aku . Diberitahu kok malah
ngak percaya” desisku
pelan.
“Iya ,aku Lani. Kalo kamu?”ulangku
sekali lagi.”Aku....anu...itu.Aku Tio” si cowok gelagepan. ”Nah gitu aja susah”
cengirku.
“Mbak mas ini wedang rondenya” kata si mbak pemilik
angkringan. ”Oh
ya mbak ini sekalian uangnya” ulurku sambil mengulurkan selelmbar
lima ribuan.” Nggak
usah, pake ini aja mbak. ‘’Ini
saya sama si mbak ini”Tio menunjuk ke arahku sambil senyum ke si Mbak angkringan.
“Oh ya mas, kalo butuh apa-apa
tinggal bilang aja” jawab
si mbak dengan intonasi super lembut. Ih si mbak ini kalo liat orang cakep
aja ganjennya setengah mati.
“Eh makasih ya” aku setengah berbisik. ”Iya ,sama-sama.Yuk
diminum”.
Aku kaget. Kami sama-sama
menjangkau gelas yang sama. Tanganku dan tangannya bersentuhan. Ada sesuatu yang
berdesir di dalam sini. Tatapan
kami bertemu saat itu, aku
nggak tahu apa yang sedang ada di otakku saat itu. Tapi yang jelas dia
menatapku begitu dalam. Aku
baru menyadari sesuatu,tatapannya mirip sama orang yang aku tunggu selama ini.
Tapi, tentu saja bukan dia. Tio terlalu keren
untuk kusamakan dengan Ardi. Tatap yang dalam dan melindungi.
“Eh sorry, ini buat kamu aja” cengir dia
mengagetkan lamuananku. Ups,
jadi malu sendiri aku ketahuan ngliatin dia. ”Kamu?”. ”Kan masih ada yang
satunya”ujarnya tenang.
Wadaw malunya kau,Lan. Udah ketahuan
ngeliatin masih tiba-tiba jadi loading lama seperti ini. Bisik hatiku
menyalahkan.
“Makasih “ujarku kaku. Lagi-lagi dia hanya
tersenyum. Senyum
yang membuat orang yang baru saja melihatnya akan nyaman bila berurusan
dengannya.
Aku menunduk malu. Samar kucium wangi
parfumnya . Benar-benar
menyejukkan.
“Tio
pake parfum apa ya?” batinku
nakal.
Aduh parah Lani kok jadi ngelantur
gini sih. Aku
bakal sembuh kok Van. Karena
aku sadar aku masih punyamu.
Pertemuanku
dengan Tio sore itu diakhiri dengan saling tukar-menukar no handphone.
Sebenarnya aku sih tidak terpikir
untuk melanjutkan perkenalan itu untuk menjadi sebuah perkenalan. Karena bisa-bisa
dengan kekerenannya itu aku tidak akan bisa menjaga hatiku yang memang sedang
kacau ini.
Tapi ya sudahalah. Tio sendiri yang
menawarkan padaku. Masa ditolak?
***
“Mbak, tadi Kak Devan
nelfon. Tiga
kali. Tapi
Mbak Lani nggak tahu kemana. Kata Kak Devan, Mbak Lani diminta
nelfon kalo dah dateng”.Ira.
Lama aku memperhatikan number list
satu ini. Devan. Akankah aku
menelponnya sekarang? Devan.... kenapa sih kamu harus menyakiti aku dengan cara
seperti itu.
“Halo” ujarku akhirnya
setelah melakukan perdebatan panjang dalam hati. ”Halo Lan”
Suara
diseberang terdengar begitu lega.
“Kamu kenapa nelpon, bukannya kita
dah selesai?” kata-kataku
kali ini terdengar lebih mantap. Walau di ujung hatiku yang terdalam
ada luka yang menganga. Perih.
Suaranya terdengar begitu terkejut
mendengar jawabanku tadi. ”Lan,aku... aku bakalan jelasin
semuanya. Please Lan. Percaya
sama aku itu cuma salah paham.”
“Salah paham ! Salah paham kamu
bilang Van? Semua
udah jelas, kamu
balik sama Sisi dan aku pergi. Fair!!!”. Keras kutahan emosi
ini yang tiba-tiba meledak-ledak begitu saja.
“Nggak bisa gitu Lan. Believe me. I love you so much.
Kalaupun kita putus kita harus putus baik-baik. Nggak dengan
kesalahpahaman seperti ini.”
“Oke, kalau memang kita putus
membuat hidupmu lebih bahagia. Aku akan putus sama kamu. Tapi tolong berikan
aku kesempatan buat ngejelasin semua
itu.” .Dia
lagi.
Apa dia bilang, aku bakal bahagia
kalau aku putus sama dia? Seandainya kamu tahu Van, saat ini hatiku sedang
hancur lebur menghadapi kenyataan yang terjadi. Bahkan mungkin lebih
hancur daripada apa yang terjadi sama kamu.
Air mata itu turun begitu saja.
Membuat suatu aliran yang dengan cepat beranak pinak.
“Terserah kamunya aja lah Van”kataku
lirih sebelum akhirnya aku menutup percakapan malam itu.
Sumpah, mataku tak bisa terpejam
malam ini. Menguak
memori-memori lamaku dengan Devan. Cowok yang sudah menemaniku empat tahun
terakhir ini.
Kuakui, bersamanya membuat hatiku
sedikit demi sedikit melupakan sosok yang selama ini kunantikan. Walau tak
sepenuhnya.Lembut sikapnya. Orang yang selalu setia dan sabar
menghadapi semua keluh kesahku di kampus.
Jujur, aku tak pernah
menyangka kisah kami akan berakhir setragis ini. Apakah aku sanggup
melupakan semua kenangan –kenangan indah kami? Setelah dia berhasil
mencairkan hatiku yang membeku dengan seseorang
yang ditunguku selama ini. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Bantalku sudah basah total dengan
airmata yang terus mengalir.Bagaimana aku harus menyalahkan Devan yang telah pergi meninggalkanku kalau kesalahan
itu memang aku yang membuatnya sendiri.
Sebulan yang lalu
***
Pohon Cinta Lani dan Devan (08.00WIB)
Semilir angin yang menyejukkan, perlahan menerbangkan ranbutku yan terlepas dari jalinannya. Sesejuk pikiranku
saat ini. Selalu
begitu,jika aku melihatnya. Devan.
“Van aku harus pergi” ucapku perlahan.” Kamu, pergi?” desisnya. ”Kemana?” ”Rencanaya sih ke Padang dan
sekitarnya. Ada
tugas pendalaman seluk beluk budaya Nusantara.” ”Seberapa lama”. ”Dua minggu”.......
Devan selalu begitu. Cemas akan
keadaanku bila kami tidak akan bertemu dalam waktuyang cukup lama.
“Tenang saja ada Dela, Arimbi,
Arum,Tisa,Naufal,Tomi,dan Reza....”mengucapkan satu suku kata terakhir menjadi
sangat berat bila aku harus mengucapkannya di depan Devan.
“Reza....”wajahnya mengeras. Seakan-akan akan ada
sebuah batu besar yang menimpanya.
“Van, kamu tahu kan ini tugas
kelompok. Dan
dia yang paling ahli buat urusan mencari
lokasi yang bagus” lidahku
tercekat.
“Iya aku tahu, kamu nggak akan
mungkin memilih Reza. Dan
kita nggak akan mungkin berpisah . Aku tahu itu. Tapi apa nggak
sebaiknya kamu pilih kelompok yang
lain saja?”
“Kelompok yang lain sudah penuh. Lagian disini ada
banyak teman yang bisa kuandalkan untuk menjauh dari dia”. ”Tapi Lan, kalo
seandainya kamu tahu, dia
pernah bilang ke aku kalau dia suka kamu. Dan akan berusaha buat ngedapetin
kamu. Bagaimanapun
caranya”
Aku menatap wajahnya lekat. Mencoba mencari tahu
apa yang tersembunyi dari hitam matanya. ”Kamu percaya aku?” ucapku lembut.
Mata itu kembali melembut. Sinarnya membuat aku
masuk ke dalamnya. Jauh
di dalam sana.Ada kasih sayang dan pengorbanan yang membuatku percaya dengan
jawabannya.
“Aku percaya kamu”senyumnya khas ,senyum simpul yang susah
sekali kudapatkan selain dari Devan.
Buatku satu ungkapan paling terakhir
sudah bisa membuatku tersenyum lega. Dan kini aku bisa kembali merasakan
tiupan-tiupan angin di bawah pohon cinta kami. Pohon cinta Lani dan
Devan.
Bagaimanapun juga Devan adalah salah
satu orang yang paling berpengaruh dalam hidupku empat tahun terakhir ini. Dia
yang dengan kesabarannnya membantuku dalam menghadapi setiap masalah di kampus
yang menggunung tak terhitung jumlahnya.
Dia yang dengan rasa pengorbanannya
mengorbankan waktunya buat dengerin tetek bengek masalah-masalahku.
Dia yang dengan kesetiaan dan
kerelaannya mampu menerima aku yang masih menunggu seseorang dari masa laluku.
Dia yang mengerti bahwa dari awal
kami bertemu hati ini tak sepenuhnya miliknya.
Dia yang selalu berkata ”kesabaran menanti
kamu buat mencoba benar-benar melihatku
tanpa harus melihatnya lagi pasti akan datang suatu hari nanti”
Mau dibuang kemana cowok sebaik ini.
Dan aku sadar Devan adalah satu dari seribu cowok yang bisa menerimaku apa
adanya tanpa harus melihat kecantikan dan kecerdasanku.
Jadi kesimpulannya aku harus
menjaganya agar dia tetap ada di
sampingku.
***
Tapi satu hal yang membuat semuanya
harus kandas bahkan hancur di tengah jalan seperti sekarang ini.
Satu kesalahan paling fatal yang
pernah terjadi dalam hidupku selama ini.
Aku tak berusaha untuk sedikit saja
membalas apa yang dia berikan untukku, hingga akhirnya dia jenuh dengan segala
ketidakpastian ini. Mungkin.
Dan, janji itu,tidak
berlaku untuk hal ini. Janjinya untuk selalu sabar menanti aku untuk
benar-benar melihatnya tanpa harus ada yang lain di sampingnya. Janji itu sudah
batal sekarang.
Dan aku memahaminya. Sangat
memahaminya. Memahami bahwa kesabaran itu ada batasannya ,dan dia berhak untuk
mendapatkan kepastian dan balasan dari perasaan tulusnya. Dari selain aku
tentunya.
Sisi. Sepupunya. Cewek itu yang
pantas untuk cowok sebaik Devan , bukan
aku.
Dan memang kisah tentang asmara
mereka sudah aku tahu sejak lama dan menjadi hal yang sangat basi bila aku
harus menceritakannya sekarang.
Perih. Luka ini belum juga sembuh.
Devan. Kenapa harus ada rasa sakit yang tercipta saat aku terpaksa
melepasnya??? Kenapa???
Kemana Lani yang tegar dan selalu
ceria menghadapi rentetan masalah-masalah di kampus? Kemana perginya Lani
, sarjana Psikologi yang berhasil lulus dengan gelar cum laude? Kemana
semua intelektual yang selama ini selalu
dibangga-banggakan.
.







0 komentar:
Posting Komentar