Suasana seolah terasa
nyaman.....
Angin menerbangkan
daun-daun yang menguning. Satu per satu daun
kuning melepaskan diri
dari dahan yang kokoh dan pergi bersama angin kering
yang panas.
Tirai-tirai
jendela yang terbuka bergerak turut dipermainkan angin, aku pun melamun di jendela kamarku. Kulihat kearah taman bunga yang berada
disamping rumah membayangkan masa depan dan masa yang lalu. Aku seorang anak
yang memiliki masa depan dan berharap suatu saat papaku dapat tinggal dirumah
bersama kami. Saat-saat yang dinantikan berkumpul bersama itu hilang dengan
adanya sebuah pekerjaan yang telah jarang dilakukan oleh seorang laki-laki yang
telah berstatus suami dan papa. Pasar malam dan pameran, yah itulah kehidupan papaku
selama 17 tahun ini. Berkelana mengelilingi belahan pulau jawa mendirikan stand
menjualkan pakaian dagangannya kepada orang-orang yang melewati standnya. Jika
hujan tiba, segera papaku memindahkan pakaian dagangannya ke tempat yang lebih
teduh. Ya aku tak tau apakah itu menghasilkan sebuah keuntungan atau bahkan
menghasilkan sebuah kerugian yang dapat mencapai puncak everest, yang jelas papaku
menikmati pekerjaannya. Tapi tidak bagi mamaku.
Mamaku
sepertinya menginginkan sosok suami yang jujur dan taat beribadah. Suami yang
dapat menjadi imam bagi keluarga dan muncul dikala kita membutuhkannya. Tapi
semua keinginan itu belum muncul di diri papa. Papaku yang berwajah gagah dan
pawakaanya pun cukup bagus, akan tetapi papa jarang sekali menjadi imam kami di
rumah. Bahkan sekalipun belum pernah papa melakukan itu! Mama tidak menyukai
pekerjaan papa. Sudah lama sejak aku masih di pangkuannya, tetapi papa tidak
mempedulikan itu! Papa tetap saja melakukannya! Ketika adikku lahir pun, papa
masih saja keluar kota. Tak tanggung-tanggung jika Papa sudah terlena dengan
pekerjaannya,mungkin tak pernah tebesit
dalam pikirnya “Kapan aku pulang? Kapan aku bisa berkumpul dengan kedua anak
ku? Kapan aku dapat selesai melakukan pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini layak
buat ku dan keluarga ku? Apakah keluargaku ridho dengan kepergianku selama ini?.
Papa pulang sebulan sekali atau bahkan hanya jika kita sangat membutuhkannya.
Itupun harus menunggu alasan yang muncul dari ucapan kebohongannya dulu.
Papaku sangat berbeda dengan papa yang lain. Bahkan
Papaku jauh dari figur seorang papa. Teringat masa kecilku, dulu saat aku duduk
di bangku SD kelas 3, aku selalu iri dengan teman-temanku yang selalu di
anter-jemput dengan papanya. Teman-temanku dipeluk dan dicium keningnya di
hadapanku. Aku tak tau bagaimana rasanya itu. Saat itupula, aku membayangkan papaku
datang. Papaku melakukan hal yang sama seperti papa temanku lakukan. Tapi.. boro-boro seperti itu, papaku saja
enggan saat kumintai pergi mengambil raport ku.
Saat itu temanku Zera bertanya ‘’Papamu kerja apa sih, Rhine?”.
Aku bingung harus menjawab apa, karna keluargaku
hampir seluruhnya berdagang pakaian aku pun menjawab begini,“Papaku jualan baju di ciamis.” (Saat itu papaku
buka stand di pasar malam)”.
Zera pun berkata “Wah, enak dong! Berarti kamu punya banyak
baju di rumah?”.
Aku pun menjawab,”Nggak enak lah! Papa ku saja
jarang di rumah”
Aku tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Zera.
Aku takut jika ia bertanya padaku dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab. Aku khawatir
keceplosan dengan jawaban bahwa “Papaku
seorang lelaki yang berjualan di pasar malam”. Entah kenapa aku tak
menyukai kalimat “pasar malam”. Aku selalu
menganggap seorang yang pekerjaanya jualan di pasar malam itu adalah seorang
pemuda yang kehidupan keluarganya tidak baik, karna sering pulang malam dan
jarang bersosialisasi dengan sanak saudaranya. Walaupun terkadang banyak sekali
pemuda di pasar malam itu dapat care
dengan teman se-konconya tetapi belum
tentu pula ia dapat care dengan
keluarganya. Maklum saja, mayoritas yang berjualan di pasar malam itu adalah
pemuda yang pol-polnya ia baru nikah
muda dan usianya juga masih muda. Tapi yang masih setia dengan kehidupan pasar
malamnya itu ialah papaku. Hampir 17 tahun, papaku melakukannya dari saat aku
masih di kandungan mama dan hingga saat aku menduduki masa remaja dengan
berstatus pelajar SMA. Ia dapat bertahan tanpa memikirkan keluarga yang di
rumah dan masih saja menikmati kehidupan “luarnya” itu. Meski aku merasa
tercukupi dalam kehidupanku secara, akan tetapi kasih sayang yang diberikan papaku
bagiku tak ada.
“
Yang jelas ku menanti dan terus menanti sebuah keajaiban akan perubahan dalam
kehidupan papaku ini dari matahari terbit di barat dan hingga terbenam di
timur”.
0o0o0o0o0
“Embun
di pagi buta menerbarkan bau basa... detik demi detik kuhitung inilah saat ku
bangun......”
Minggu yang cerah mengawali hari yang indah ini aku
pun terbangun dari tidur ku yang nyenyak akan semalaman bergadang mempelajari
teori revolusi oleh darwin. Sempat terpikir oleh kubayangan papa yang muncul di
mimpi tadi memeluk diriku dan akan mengucapkan happy birthday yang ke 17 tahun umur ku, “Sudah
sebulan papa berkelana di daerah awam kapan papa pulang?”.batiin ku, akhirnya
ku ambil hape di atas meja belajar dan ku tekan tombol perintah call your papa
(karna di hape nomer papa ku tuliskan papa) ku tunggu lantunan suara dari papa
dan ku tak sabar mengatakan kepada papa atas keberhasilanku telah mendapatkan
juara OSN peringkat 3 besar dalam bidang science.
lalu suara itu pun muncul suara khas papa yang
logatnya keras namun lembut itu segeralah ku berkata “Assalamualaikum papa”
Papaku menjawabnya”waalaikumsalam
etss tumben nih telephone anak papa?”
Aku : “ya udeh pa aku matiin nih hpnya engga usah nelphon papa deh”
Papa pun menjawab kembali menjawab ”hohoy ditanya gitu aja kamu malah
kagolan e nak kan papa cuman bercanda”
Aku : “ya...ya...yah....papahh...(gremeng ku atas kegemesan kepada
ucapan papa tadi)
Papa : ”iya rhine....maafkan papa oke....”
“eh ya gimana nih kabarmu nak sehatkan....ada
kendala apa nih di sekolah??”
Aku :”haha oke deh papa sieph...baik kok papa sendiri gimana nih
hahay....kalo kendala siih engga ada....papa
kapan bisa berkumpul dengan kami??”
Papa : “papa belum tau kapan bisa pulang nih rhine.....soalnya papa jaga
stand sendirian” “belajarnya gmna nih
sukses kan?”
Aku : “sukses kok papa ku akan mempertahankan prestasi ku di sekolah”
Papa berkata lagi “bagus deh pinter banget nih anak papa....eh ya kamu
butuh uang lagi tidak sa apa yang kurang biaya sekolahnya lagi?”
Aku : “emm kalo uang jajan kurang pap tapi kalo mau dikirim lagi boleh-boleh
aja hehe aku masih ada kurang biaya sekolah sebulan kok pap”
Papa : “oke deh kalo gitu papa akan mengirimnya kembali lewat transfer
bank kamu ya”
Aku :“hehe makasih papa” “wasalamualaikum”.
Setelah menutup telpon dari papa aku pun bergumam (Tumben banget aku
bisa seramah dengan papa untuk kali ini..), yah...karena aku biasanya selalu
telpon jika saat-saat ku membutuhkan uang saku lebih atau untuk membayar uang
spp saja, --sejak aku lulus bangku SMP mamaku menyerahkan pembayaran uang spp
sekolah kepada papa--
.
Tak lama kemudian terdengar gerakan kaki seseorang
yang akan menaiki anak tangga menuju arah kamarku, lalu ia mengetok pintu kamar
ku dan berkata “rhine, rhine, sudah bangun?”, aku pun menjawab “sudah mama, sebentar
ku bukakan pintunya”.
“Ada apa mama?”, “mama tau tidak barusan saja aku
menelpon papa dan ia berkata bahwa nanti sore akan menuju perjalanan ke rumah”.
Mama : “benarkah?, lalu apa kata papa rhine?”
Aku : “aku sih mengharapkan papa bisa harmonis gitu
ma saat telpon dengan ku tapi, papa tidak mengatakan apa-apa tentang mama cuman
papa akan membayar biaya spp ku ma”
Mama : “ya sudah kalo begitu....” “ eh ya nak rapikan
tempat tidur mu dan mulailah bersih-bersih rumah ya karna tante mu akan
berkunjung kerumah sekarang....”
Aku : “oke deh ma sip....”
Lalu ku mulai membersihkan kamar ku, mulai dari
buku-buku yang berantakan ku susun dan ku letakan di rak buku dan pakaian yang
tercecer di lantai ku ambil dan ku pilah mana yang kotor dan yang bersih lalu
ku sapu kamar sehingga tidak ada debu dan kotoran yang ada di kamarku, yah
inilah kondisi kamar ku dimana saat akhir pekan aku pun harus merapikan
barang-barang yang setiap harinya jarang sekali aku menatanya.
beberapa menit kemudian.....
“ahhhh..... akhirnya selesai juga membersihkan kamar sang putri rhine
haha ternyata cepat juga selesainya, akhir pekan yang seharusnya waktu yang
tepat untuk bermain bersama teman sebayaku tetapi ku peluangkan untuk
membereskan pekerjaan rumah terlebih dahulu”, aku pun menyender di dekat pintu
kamar dan menggumuni suasana kamar
yang benar sangat rapi dan bersih (untuk sesaat saja), yah itulah kelakuan ku
terhadap kamarku sendiri yang terkadang lengah untuk merapikan kamarnya
sendiri.... tidak tanggung-tanggung kenapa aku bisa lengah terhadap kamarku,
mungkin karna diriku adalah seorang aktifis di sekolah, sehingga untuk pulang
menuju rumah saja hingga ralut malam, sehingga sesampainya di rumah hanya
beristirahat. Walaupun sebaiknya kita bisa membagi waktu dalam pekerjaan rumah
dan pekerjaan di sekolah.
o0o0o0o0o0o0o0o0o
“terpikir oleh ku mengapa tanteku tiba-tiba
mengunjungi mama dan mengapa rasanya aneh begini, okelah semoga saja tak
terjadi apa-apa”
Ku siapkan diriku dengan mandi dan sarapan.....
Ehmm that right awal yang indah walaupun dengan suasana
yang biasa aja
Ting,,,tong,,,ting,,,tong,,, “bel rumah berbunyi
dan bergegas adik ku membukakan pintu rumah” terlihat sosok wanita beridiri di
depan pintu pawakannya yang slim, ellegant dan wajahnya pun masih muda manis
pula seperti dengan mama ciri khas wajah melayunya masih tertera di wajahnya
walaupun ia lebih tua dari mamaku....
Yah itulah tanteku akhirnya tiba juga.
“eyy rama mana mamanya??
“ada tante tuh lagi ada di dapur , masuk aja tante”.
“eitss bentar dulu, toss tangan dulu dong jagoan tante ini”
“haha oke deh tante...”
Tanteku pun masuk dengan adiku, ya rama itu adik cowok ku semata wayang,
aku dua bersaudara dan dia adik ku satu-satunya, dialah yang akan menggantikan
papaku kelak jika papa telah tiada.
Rama seorang adik yang usil, jail, terkadang konyol
di hadapan ku dan temannya akan tetapi dia sosok yang friendly dengan orang
yang berada di sekitarnya, dia berumur 15 tahun dia kacek (bahasa orang jawa kalo mengatakan selisih) 3 tahun sama aku
tapi sosoknya kaya seumuran haha... apa lagakku yang kaya kekanak-kanakan,
sehingga ku dapat menyimpulkan seperti itu terhadap dia, tapi tak apa lah karna
dia adik yang sangat membantu aku pokoknya.
o0o0o0o0o00o0o
Tak lama waktupun berjalan aku melangkah menuju
halaman belakang untuk menghirup udara sejuk dan melakukan pekerjaan rumah
yaitu menyiram tanaman koleksi aku dan mama yah...mama dan aku sangat menyukai
berbagai macam bunga-bungaan mulai dari yang berharga sampai dengan yang
memiliki karakter-karakter yang unik dari bunga-bunga itu, namun dipertengahan
jalan menuju halaman belakang aku mendengar seorang wanita menangis tak
henti-hentinya iya menangis dengan suara yang cukup tegar ia menceritakan
seluruh permasalahan yang ada pada dirinya itu.
Aku pun tak sanggup mendengar suara itu dan aku pun
tak ingin wanita tersebut mengalami kehidupan ini, disakiti dan tersakiti atas ucapan
sang cesper, aku berharap kelak wanita itu dapat hidup bahagia semoga saja.
Wanita itu adalah mamaku yah ia menceritakan keluhkesahnya kepada tanteku, aku
tersadar bahwa masalah ini tidak gampang di selesaikan karna begitu banyaknya
rahasia yang disimpan oleh sang cesper, sang cesper dapat mudah sekali
meluluhkan hati seseorang termasuk mamaku, dia dapat berkata seperti seorang
yang
Tanpa disadari aku menguping pembicaraan itu hingga akhir cerita, saat
itu aku masih berada di depan pintu ruangan, dan terdengarlah suara ceklekan
pintu itu menunjukan bahwa seseorang dari salah satu yang berada dalam ruangan
itu pun keluar, maka bergegaslah aku melarikan diri dari depan pintu menuju
kamarku.
o0o0o0o0o0o0o0o
Saat di kamar.....
Ku rebahkan badanku diatas tempat tidur, dan saat
itupun aku masih mengingat pembicaraan yang ku dengar dibawah tadi, sakit hati ini
mendengar berita itu, aku tak mengira bahwa ini akan menjadi akhir dari sebuah
hubungan, aku juga tak mengerti apa maksud dan tujuan dari semua yang dilakukan
sang casper itu terhadap mama dan aku, dan aku tak sanggup menahan kepahitan
yang dialami oleh mamaku ini.
Saat itulah aku tersadar bahwa hidup harus dengan
pilihan, dan hidup selalu ada kesedihan dan kesenangan, akan tetapi kali ini
yang dirasakan oleh mamaku adalah kesedihan yang mendalam muncul dari lubuk
hatinya.
Apa yang kupikirkan saat itu benar-benar ngaco dalam benak pikiranku, ku selalu
bernegatif thinking tentang papa dan selalu menyalahkan posisi papa, dan tidak
berhenti-hentinya aku menyalahkannya. Tetapi itu semua sudah kehendak Tuhan dan
itupula jalan hidup papa.
Mama bisa bersedih hatinya karna kelakuan papa yang tidak beres,
ternyata rahasia yang disimpan oleh papa, yang ditutupinya itu terdengar pula
oleh mama, sejak aku masih kecil hingga saat ini mama menyimpan semua rahasia
itu sendirian, tanpa menceritakannya kepadaku, papa ku seorang casper yang
mudah saja menghilang dan muncul tiba-tiba, yang dapat menarik hati orang
disekitarnya sehingga dapat luluh akan tutur katanya dan laen-laen.
“Aku bermohon dan selalu memohon agar muncul sebuah
keajaiban setelah hari ini, dan tidak ada lagi perslisihan antara mama dan papa
sehingga kembali lagi rasa kasih sayang antara sesama mereka”
o0o0o0o0o0o0o
Alarm jam
berbunyi... “good morning...good morning....good morning”
Aku terbangun mendengar alarm itu dan segera ku awali hari ini dengan
membasuh muka ku dengan air wudhuku dan bergegas ku melakukan sholat subuh di
awal senin ini, dengan sholat subuhku itu membuat badanku semakin fresh lalu ku
mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah....
Seperti doaku kemaren bahwa hari ini aku berharap datangnya keajaiban
dalam kehidupan keluarga ku, ya semoga saja itu terlaksanakan.
Tapi yang tidak diinginkan terjadi di siang hari ini, bel lonceng
sekolah berbunyi itu tandanya pelajaran untuk hari senin ini telah selesai dan
segera aku pulang menuju rumah bersama teman sekelasku yang kebetulan rumahnya
bersebelahan dengan ku.
Sesampainya
sampai di rumah.....
Aku menuju
kamar dan mengganti seragamku dengan kaos dan celana... .
Saat itu mama sedang menonton TV di ruang santai sambil memegang HP,
dengan sibuknya mama mencari nomer orang dan mulai menelponya, tepatnya
disebelah mama rama duduk dengan membawa buku komiknya yang berjudul “detektif
conan part 2002”, si rama sangat gemar sekali membaca komik, dan dia termasuk
pengkolektor buku komik dari berbagai negarapun ia memilikinya.
Disaat itu
aku sedang berada di kamar mendengarkan musik yang ku setel lewat HP ku sambil
tetiduran di kamar, dan entah mengapa muncul firasat dari benakku bahwa mama
sebenarnya menelpon papa.
Tak lama
kemudian terdengarlah dialog antara mama dengan papa :
Mama : “salamualaikum” “uda....”
Papa : “adoh apo dek?”
Mama : “baako kata uda uang lai di transfer siang iko tapi uda baduto ka
den lai”
Papa : “iyo lai uda transfer tapi urang nan mantransferan itu ndak
kamari doh nyo....ndak adoh urang nan manjagani tampek iko klo uda ka bank
nantinyo...”
Mama : “iyolah.... uda mah sanangnyo
seperti itu baduto taruih jo den... iyo itu salahnyo kenapo harus
jauih-jauih julan sampai ba bulan-bulan ndak pulang ka rumah apo ndak sayang
lagi ka anak uda dan den ndak butuh lagi doh materi dari uda den hanya butuhnyo
udan seperti uda yang umumnyo pulang ka rumah setiap hari dan adoh di rumah
doh.... ndak saparti saat iko nan jauh dari kaluarganyo” “ambo nak tanyo ka uda
sampai kapan uda saparti itu keliling taruih tampo mikir kaluarganyo dirumah
iko dan tak jaleh hasil yang didapekan dari kaliling itu”.
Papa : “apo
maksud adik iko….. mambangihi uda taruih… jaga tuh cakap adik ndak baik didanga
jo anak-anak…. Iyo den ka kaliling sataruihnyo…”
Mama :
“o jadi uda manyalahkan ambo mambanarkan saluruhnyo kece uda apa tu udah pantas
di lakukan… baako uda saparti itu pada den den mangecek yang terbaik buek
kaluarga, baiklah kalo itu mau uda bialah ba kaliling taruih hingga pulang ka
rumah jo kakinyo patah ndak awak urusi doh uda sampai mati pun”
Papa : “saparti itu kecek kau ka den???” “den dangaan
samapai adik puas mangecek”
Mama : “uda alah sakarang den ba takok ka uda….
“uda sanang kasana kamari katampek janda tuo tuh manginap bapinjam
pitihnyo kan?”
“uda tak menghargai den mambangih sajo pada den pulang ka rumah
membangih sajo…apa tu cakap patut didengar anak-anak…. Bialah den mangatakan
saparti ini anak-anak mandanga awak batangka, uda sajo nan indak bisa menempatkan
posisi uda sebagai ayah bagi anak-anaknyo ndak adoh kasih sayang uda ka kami
satupun doh.”
Papa : “apo kecek adik ko mamfitnah den sajo baako….
Den ndak pernah lagi ka jando tuo tu bapinjam uangnyo pun dah lunas den beai
kamaren….” “kecek saako tu??”
Mama : ”samua kaluarga uda dan den alah tau sadohanyo
kalo uda baduto taruih mengecek…” “sikap uda tu ndak baik doh.”
Papa : “iyoyolah satarah adik lah bana nyo di adik….”
(dengan rasa kesal…)
Saat itulah
aku menyimpulkan pantas atas ucapan ku yang mengatakan bahwa papa sama dengan
casper yang tak dapat terlihat oleh orang lain dan muncul hanya sesaat saja di
hadapan keluarga.....