Sabtu, Juni 16

Deddy sosok mu yang seperti Caspper



Suasana seolah terasa nyaman.....
Angin menerbangkan daun-daun yang menguning. Satu per satu daun
kuning melepaskan diri dari dahan yang kokoh dan pergi bersama angin kering
yang panas.

Tirai-tirai jendela yang terbuka bergerak turut dipermainkan angin, aku pun melamun di jendela kamarku.  Kulihat kearah taman bunga yang berada disamping rumah membayangkan masa depan dan masa yang lalu. Aku seorang anak yang memiliki masa depan dan berharap suatu saat papaku dapat tinggal dirumah bersama kami. Saat-saat yang dinantikan berkumpul bersama itu hilang dengan adanya sebuah pekerjaan yang telah jarang dilakukan oleh seorang laki-laki yang telah berstatus suami dan papa. Pasar malam dan pameran, yah itulah kehidupan papaku selama 17 tahun ini. Berkelana mengelilingi belahan pulau jawa mendirikan stand menjualkan pakaian dagangannya kepada orang-orang yang melewati standnya. Jika hujan tiba, segera papaku memindahkan pakaian dagangannya ke tempat yang lebih teduh. Ya aku tak tau apakah itu menghasilkan sebuah keuntungan atau bahkan menghasilkan sebuah kerugian yang dapat mencapai puncak everest, yang jelas papaku menikmati pekerjaannya. Tapi tidak bagi mamaku.

Mamaku sepertinya menginginkan sosok suami yang jujur dan taat beribadah. Suami yang dapat menjadi imam bagi keluarga dan muncul dikala kita membutuhkannya. Tapi semua keinginan itu belum muncul di diri papa. Papaku yang berwajah gagah dan pawakaanya pun cukup bagus, akan tetapi papa jarang sekali menjadi imam kami di rumah. Bahkan sekalipun belum pernah papa melakukan itu! Mama tidak menyukai pekerjaan papa. Sudah lama sejak aku masih di pangkuannya, tetapi papa tidak mempedulikan itu! Papa tetap saja melakukannya! Ketika adikku lahir pun, papa masih saja keluar kota. Tak tanggung-tanggung jika Papa sudah terlena dengan pekerjaannya,mungkin  tak pernah tebesit dalam pikirnya “Kapan aku pulang? Kapan aku bisa berkumpul dengan kedua anak ku? Kapan aku dapat selesai melakukan pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini layak buat ku dan keluarga ku? Apakah keluargaku ridho dengan kepergianku selama ini?. Papa pulang sebulan sekali atau bahkan hanya jika kita sangat membutuhkannya. Itupun harus menunggu alasan yang muncul dari ucapan kebohongannya dulu.
Papaku sangat berbeda dengan papa yang lain. Bahkan Papaku jauh dari figur seorang papa. Teringat masa kecilku, dulu saat aku duduk di bangku SD kelas 3, aku selalu iri dengan teman-temanku yang selalu di anter-jemput dengan papanya. Teman-temanku dipeluk dan dicium keningnya di hadapanku. Aku tak tau bagaimana rasanya itu. Saat itupula, aku membayangkan papaku datang. Papaku melakukan hal yang sama seperti papa temanku lakukan. Tapi.. boro-boro seperti itu, papaku saja enggan saat kumintai pergi mengambil raport ku.

Saat itu temanku Zera bertanya ‘’Papamu kerja apa sih, Rhine?”.
Aku bingung harus menjawab apa, karna keluargaku hampir seluruhnya berdagang pakaian aku pun menjawab begini,“Papaku jualan baju di ciamis.” (Saat itu papaku buka stand di pasar malam)”.
            Zera pun berkata “Wah, enak dong! Berarti kamu punya banyak baju di rumah?”.
            Aku pun menjawab,”Nggak enak lah! Papa ku saja jarang di rumah”

Aku tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Zera. Aku takut jika ia bertanya padaku dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab. Aku khawatir keceplosan dengan jawaban bahwa “Papaku seorang lelaki yang berjualan di pasar malam”. Entah kenapa aku tak menyukai kalimat “pasar malam”. Aku selalu menganggap seorang yang pekerjaanya jualan di pasar malam itu adalah seorang pemuda yang kehidupan keluarganya tidak baik, karna sering pulang malam dan jarang bersosialisasi dengan sanak saudaranya. Walaupun terkadang banyak sekali pemuda di pasar malam itu dapat care dengan teman se-konconya tetapi belum tentu pula ia dapat care dengan keluarganya. Maklum saja, mayoritas yang berjualan di pasar malam itu adalah pemuda yang pol-polnya ia baru nikah muda dan usianya juga masih muda. Tapi yang masih setia dengan kehidupan pasar malamnya itu ialah papaku. Hampir 17 tahun, papaku melakukannya dari saat aku masih di kandungan mama dan hingga saat aku menduduki masa remaja dengan berstatus pelajar SMA. Ia dapat bertahan tanpa memikirkan keluarga yang di rumah dan masih saja menikmati kehidupan “luarnya” itu. Meski aku merasa tercukupi dalam kehidupanku secara, akan tetapi kasih sayang yang diberikan papaku bagiku tak ada.

            “ Yang jelas ku menanti dan terus menanti sebuah keajaiban akan perubahan dalam kehidupan papaku ini dari matahari terbit di barat dan hingga terbenam di timur”.
                                                          
0o0o0o0o0

            “Embun di pagi buta menerbarkan bau basa... detik demi detik kuhitung inilah saat ku bangun......”

Minggu yang cerah mengawali hari yang indah ini aku pun terbangun dari tidur ku yang nyenyak akan semalaman bergadang mempelajari teori revolusi oleh darwin. Sempat terpikir oleh kubayangan papa yang muncul di mimpi tadi memeluk diriku dan akan mengucapkan  happy birthday yang ke 17 tahun umur ku, “Sudah sebulan papa berkelana di daerah awam kapan papa pulang?”.batiin ku, akhirnya ku ambil hape di atas meja belajar dan ku tekan tombol perintah call your papa (karna di hape nomer papa ku tuliskan papa) ku tunggu lantunan suara dari papa dan ku tak sabar mengatakan kepada papa atas keberhasilanku telah mendapatkan juara OSN peringkat 3 besar dalam bidang science.

lalu suara itu pun muncul suara khas papa yang logatnya keras namun lembut itu segeralah    ku berkata “Assalamualaikum papa”
 Papaku menjawabnya”waalaikumsalam etss tumben nih telephone anak papa?”
Aku : “ya udeh pa aku matiin nih hpnya engga usah nelphon papa deh”
Papa pun menjawab kembali menjawab ”hohoy ditanya gitu aja kamu malah kagolan e nak kan  papa cuman bercanda”
Aku : “ya...ya...yah....papahh...(gremeng ku atas kegemesan kepada ucapan papa tadi)
Papa : ”iya rhine....maafkan papa oke....”
            “eh ya gimana nih kabarmu nak sehatkan....ada kendala apa nih di sekolah??”
Aku :”haha oke deh papa sieph...baik kok papa sendiri gimana nih hahay....kalo kendala siih engga    ada....papa kapan bisa berkumpul dengan kami??”
Papa : “papa belum tau kapan bisa pulang nih rhine.....soalnya papa jaga stand sendirian”     “belajarnya gmna nih sukses kan?”
Aku : “sukses kok papa ku akan mempertahankan prestasi ku di sekolah”
Papa berkata lagi “bagus deh pinter banget nih anak papa....eh ya kamu butuh uang lagi tidak sa apa yang kurang biaya sekolahnya lagi?”
Aku : “emm kalo uang jajan kurang pap tapi kalo mau dikirim lagi boleh-boleh aja hehe aku masih ada kurang biaya sekolah sebulan kok pap”
Papa : “oke deh kalo gitu papa akan mengirimnya kembali lewat transfer bank kamu ya”
Aku :“hehe makasih papa” “wasalamualaikum”.

Setelah menutup telpon dari papa aku pun bergumam (Tumben banget aku bisa seramah dengan papa untuk kali ini..), yah...karena aku biasanya selalu telpon jika saat-saat ku membutuhkan uang saku lebih atau untuk membayar uang spp saja, --sejak aku lulus bangku SMP mamaku menyerahkan pembayaran uang spp sekolah kepada papa--
.
Tak lama kemudian terdengar gerakan kaki seseorang yang akan menaiki anak tangga menuju arah kamarku, lalu ia mengetok pintu kamar ku dan berkata “rhine, rhine, sudah bangun?”, aku pun menjawab “sudah mama, sebentar ku bukakan pintunya”.
“Ada apa mama?”, “mama tau tidak barusan saja aku menelpon papa dan ia berkata bahwa nanti sore akan menuju perjalanan ke rumah”.
Mama : “benarkah?, lalu apa kata papa rhine?”
Aku : “aku sih mengharapkan papa bisa harmonis gitu ma saat telpon dengan ku tapi, papa tidak mengatakan apa-apa tentang mama cuman papa akan membayar biaya spp ku ma”
Mama : “ya sudah kalo begitu....” “ eh ya nak rapikan tempat tidur mu dan mulailah bersih-bersih rumah ya karna tante mu akan berkunjung kerumah sekarang....”
Aku : “oke deh ma sip....”

Lalu ku mulai membersihkan kamar ku, mulai dari buku-buku yang berantakan ku susun dan ku letakan di rak buku dan pakaian yang tercecer di lantai ku ambil dan ku pilah mana yang kotor dan yang bersih lalu ku sapu kamar sehingga tidak ada debu dan kotoran yang ada di kamarku, yah inilah kondisi kamar ku dimana saat akhir pekan aku pun harus merapikan barang-barang yang setiap harinya jarang sekali aku menatanya.

beberapa menit kemudian.....
“ahhhh..... akhirnya selesai juga membersihkan kamar sang putri rhine haha ternyata cepat juga selesainya, akhir pekan yang seharusnya waktu yang tepat untuk bermain bersama teman sebayaku tetapi ku peluangkan untuk membereskan pekerjaan rumah terlebih dahulu”, aku pun menyender di dekat pintu kamar dan menggumuni suasana kamar yang benar sangat rapi dan bersih (untuk sesaat saja), yah itulah kelakuan ku terhadap kamarku sendiri yang terkadang lengah untuk merapikan kamarnya sendiri.... tidak tanggung-tanggung kenapa aku bisa lengah terhadap kamarku, mungkin karna diriku adalah seorang aktifis di sekolah, sehingga untuk pulang menuju rumah saja hingga ralut malam, sehingga sesampainya di rumah hanya beristirahat. Walaupun sebaiknya kita bisa membagi waktu dalam pekerjaan rumah dan pekerjaan di sekolah.

o0o0o0o0o0o0o0o0o

“terpikir oleh ku mengapa tanteku tiba-tiba mengunjungi mama dan mengapa rasanya aneh begini, okelah semoga saja tak terjadi apa-apa”

Ku siapkan diriku dengan mandi dan sarapan.....
Ehmm that right awal yang indah walaupun dengan suasana yang biasa aja
Ting,,,tong,,,ting,,,tong,,, “bel rumah berbunyi dan bergegas adik ku membukakan pintu rumah” terlihat sosok wanita beridiri di depan pintu pawakannya yang slim, ellegant dan wajahnya pun masih muda manis pula seperti dengan mama ciri khas wajah melayunya masih tertera di wajahnya walaupun ia lebih tua dari mamaku....
Yah itulah tanteku akhirnya tiba juga.
“eyy rama mana mamanya??
“ada tante tuh lagi ada di dapur , masuk aja tante”.
“eitss bentar dulu, toss tangan dulu dong jagoan tante ini”
“haha oke deh tante...”
Tanteku pun masuk dengan adiku, ya rama itu adik cowok ku semata wayang, aku dua bersaudara dan dia adik ku satu-satunya, dialah yang akan menggantikan papaku kelak jika papa telah tiada.

Rama seorang adik yang usil, jail, terkadang konyol di hadapan ku dan temannya akan tetapi dia sosok yang friendly dengan orang yang berada di sekitarnya, dia berumur 15 tahun dia kacek (bahasa orang jawa kalo mengatakan selisih) 3 tahun sama aku tapi sosoknya kaya seumuran haha... apa lagakku yang kaya kekanak-kanakan, sehingga ku dapat menyimpulkan seperti itu terhadap dia, tapi tak apa lah karna dia adik yang sangat membantu aku pokoknya.

o0o0o0o0o00o0o
Tak lama waktupun berjalan aku melangkah menuju halaman belakang untuk menghirup udara sejuk dan melakukan pekerjaan rumah yaitu menyiram tanaman koleksi aku dan mama yah...mama dan aku sangat menyukai berbagai macam bunga-bungaan mulai dari yang berharga sampai dengan yang memiliki karakter-karakter yang unik dari bunga-bunga itu, namun dipertengahan jalan menuju halaman belakang aku mendengar seorang wanita menangis tak henti-hentinya iya menangis dengan suara yang cukup tegar ia menceritakan seluruh permasalahan yang ada pada dirinya itu.
Aku pun tak sanggup mendengar suara itu dan aku pun tak ingin wanita tersebut mengalami kehidupan ini, disakiti dan tersakiti atas ucapan sang cesper, aku berharap kelak wanita itu dapat hidup bahagia semoga saja. Wanita itu adalah mamaku yah ia menceritakan keluhkesahnya kepada tanteku, aku tersadar bahwa masalah ini tidak gampang di selesaikan karna begitu banyaknya rahasia yang disimpan oleh sang cesper, sang cesper dapat mudah sekali meluluhkan hati seseorang termasuk mamaku, dia dapat berkata seperti seorang yang

Tanpa disadari aku menguping pembicaraan itu hingga akhir cerita, saat itu aku masih berada di depan pintu ruangan, dan terdengarlah suara ceklekan pintu itu menunjukan bahwa seseorang dari salah satu yang berada dalam ruangan itu pun keluar, maka bergegaslah aku melarikan diri dari depan pintu menuju kamarku.
                                           
o0o0o0o0o0o0o0o

Saat di kamar.....
Ku rebahkan badanku diatas tempat tidur, dan saat itupun aku masih mengingat pembicaraan yang ku dengar dibawah tadi, sakit hati ini mendengar berita itu, aku tak mengira bahwa ini akan menjadi akhir dari sebuah hubungan, aku juga tak mengerti apa maksud dan tujuan dari semua yang dilakukan sang casper itu terhadap mama dan aku, dan aku tak sanggup menahan kepahitan yang dialami oleh mamaku ini.

Saat itulah aku tersadar bahwa hidup harus dengan pilihan, dan hidup selalu ada kesedihan dan kesenangan, akan tetapi kali ini yang dirasakan oleh mamaku adalah kesedihan yang mendalam muncul dari lubuk hatinya.

Apa yang kupikirkan saat itu benar-benar ngaco dalam benak pikiranku, ku selalu bernegatif thinking tentang papa dan selalu menyalahkan posisi papa, dan tidak berhenti-hentinya aku menyalahkannya. Tetapi itu semua sudah kehendak Tuhan dan itupula jalan hidup papa.
Mama bisa bersedih hatinya karna kelakuan papa yang tidak beres, ternyata rahasia yang disimpan oleh papa, yang ditutupinya itu terdengar pula oleh mama, sejak aku masih kecil hingga saat ini mama menyimpan semua rahasia itu sendirian, tanpa menceritakannya kepadaku, papa ku seorang casper yang mudah saja menghilang dan muncul tiba-tiba, yang dapat menarik hati orang disekitarnya sehingga dapat luluh akan tutur katanya dan laen-laen.
“Aku bermohon dan selalu memohon agar muncul sebuah keajaiban setelah hari ini, dan tidak ada lagi perslisihan antara mama dan papa sehingga kembali lagi rasa kasih sayang antara sesama mereka”      
          
o0o0o0o0o0o0o

Alarm jam berbunyi... “good morning...good morning....good morning”
Aku terbangun mendengar alarm itu dan segera ku awali hari ini dengan membasuh muka ku dengan air wudhuku dan bergegas ku melakukan sholat subuh di awal senin ini, dengan sholat subuhku itu membuat badanku semakin fresh lalu ku mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah....
Seperti doaku kemaren bahwa hari ini aku berharap datangnya keajaiban dalam kehidupan keluarga ku, ya semoga saja itu terlaksanakan.

Tapi yang tidak diinginkan terjadi di siang hari ini, bel lonceng sekolah berbunyi itu tandanya pelajaran untuk hari senin ini telah selesai dan segera aku pulang menuju rumah bersama teman sekelasku yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan ku.

Sesampainya sampai di rumah.....
Aku menuju kamar dan mengganti seragamku dengan kaos dan celana... .
Saat itu mama sedang menonton TV di ruang santai sambil memegang HP, dengan sibuknya mama mencari nomer orang dan mulai menelponya, tepatnya disebelah mama rama duduk dengan membawa buku komiknya yang berjudul “detektif conan part 2002”, si rama sangat gemar sekali membaca komik, dan dia termasuk pengkolektor buku komik dari berbagai negarapun ia memilikinya.
Disaat itu aku sedang berada di kamar mendengarkan musik yang ku setel lewat HP ku sambil tetiduran di kamar, dan entah mengapa muncul firasat dari benakku bahwa mama sebenarnya menelpon papa. 

Tak lama kemudian terdengarlah dialog antara mama dengan papa :
Mama : “salamualaikum” “uda....”
Papa : “adoh apo dek?”
Mama : “baako kata uda uang lai di transfer siang iko tapi uda baduto ka den lai”
Papa : “iyo lai uda transfer tapi urang nan mantransferan itu ndak kamari doh nyo....ndak adoh urang nan manjagani tampek iko klo uda ka bank nantinyo...”
Mama : “iyolah.... uda mah sanangnyo  seperti itu baduto taruih jo den... iyo itu salahnyo kenapo harus jauih-jauih julan sampai ba bulan-bulan ndak pulang ka rumah apo ndak sayang lagi ka anak uda dan den ndak butuh lagi doh materi dari uda den hanya butuhnyo udan seperti uda yang umumnyo pulang ka rumah setiap hari dan adoh di rumah doh.... ndak saparti saat iko nan jauh dari kaluarganyo” “ambo nak tanyo ka uda sampai kapan uda saparti itu keliling taruih tampo mikir kaluarganyo dirumah iko dan tak jaleh hasil yang didapekan dari kaliling itu”.
Papa : “apo maksud adik iko….. mambangihi uda taruih… jaga tuh cakap adik ndak baik didanga jo anak-anak…. Iyo den ka kaliling sataruihnyo…”
Mama : “o jadi uda manyalahkan ambo mambanarkan saluruhnyo kece uda apa tu udah pantas di lakukan… baako uda saparti itu pada den den mangecek yang terbaik buek kaluarga, baiklah kalo itu mau uda bialah ba kaliling taruih hingga pulang ka rumah jo kakinyo patah ndak awak urusi doh uda sampai mati pun”
Papa : “saparti itu kecek kau ka den???” “den dangaan samapai adik puas mangecek”
Mama : “uda alah sakarang den ba takok ka uda….
             “uda sanang kasana kamari katampek janda tuo tuh manginap bapinjam pitihnyo kan?”
             “uda tak menghargai den mambangih sajo pada den pulang ka rumah membangih sajo…apa tu cakap patut didengar anak-anak…. Bialah den mangatakan saparti ini anak-anak mandanga awak batangka, uda sajo nan indak bisa menempatkan posisi uda sebagai ayah bagi anak-anaknyo ndak adoh kasih sayang uda ka kami satupun doh.”
Papa : “apo kecek adik ko mamfitnah den sajo baako…. Den ndak pernah lagi ka jando tuo tu bapinjam uangnyo pun dah lunas den beai kamaren….” “kecek saako tu??”
Mama : ”samua kaluarga uda dan den alah tau sadohanyo kalo uda baduto taruih mengecek…” “sikap uda tu ndak baik doh.”
Papa : “iyoyolah satarah adik lah bana nyo di adik….”
          (dengan rasa kesal…)

Saat itulah aku menyimpulkan pantas atas ucapan ku yang mengatakan bahwa papa sama dengan casper yang tak dapat terlihat oleh orang lain dan muncul hanya sesaat saja di hadapan keluarga.....
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar