Selasa, Juni 19

awal dari cerpen ke dua ku


Hidup itu penuh dengan rintangan tapi terkadang kita enggan untuk menghadapi rintangan itu dan berharap-harap cemas dalam melakukannya.....

Akan tetapi, jika rintangan itu kita lalui kita akan mendapatkan buah dari usaha yang kita lakukan jika itu dilandasi dengan usaha, akan tetapi bisa mendapatkan sebuah kesesalan jika kita tak menggapainya dengan usaha....

Aku selalu berharap bahwa saat aku melihat sebuah rintangan dan aku lakukan rintangan itu kelak ku mendapatkan yang namanya kesuksesan. Karna yang namanya  manusia itu diciptakan untuk menjadi yang terbaik dan yang terbaik itulah yang dapat menyelesaikan sebuah rintangan yang ada di depan matanya..
Sebuah resiko yang dihadapi juga harus dihadapi entah itu bakal mendatangkan keberuntungan atau kesedihan tapi yang jelas kita telah berusaha terlebih dahulu....
This entry was posted in

Sabtu, Juni 16

Deddy sosok mu yang seperti Caspper



Suasana seolah terasa nyaman.....
Angin menerbangkan daun-daun yang menguning. Satu per satu daun
kuning melepaskan diri dari dahan yang kokoh dan pergi bersama angin kering
yang panas.

Tirai-tirai jendela yang terbuka bergerak turut dipermainkan angin, aku pun melamun di jendela kamarku.  Kulihat kearah taman bunga yang berada disamping rumah membayangkan masa depan dan masa yang lalu. Aku seorang anak yang memiliki masa depan dan berharap suatu saat papaku dapat tinggal dirumah bersama kami. Saat-saat yang dinantikan berkumpul bersama itu hilang dengan adanya sebuah pekerjaan yang telah jarang dilakukan oleh seorang laki-laki yang telah berstatus suami dan papa. Pasar malam dan pameran, yah itulah kehidupan papaku selama 17 tahun ini. Berkelana mengelilingi belahan pulau jawa mendirikan stand menjualkan pakaian dagangannya kepada orang-orang yang melewati standnya. Jika hujan tiba, segera papaku memindahkan pakaian dagangannya ke tempat yang lebih teduh. Ya aku tak tau apakah itu menghasilkan sebuah keuntungan atau bahkan menghasilkan sebuah kerugian yang dapat mencapai puncak everest, yang jelas papaku menikmati pekerjaannya. Tapi tidak bagi mamaku.

Mamaku sepertinya menginginkan sosok suami yang jujur dan taat beribadah. Suami yang dapat menjadi imam bagi keluarga dan muncul dikala kita membutuhkannya. Tapi semua keinginan itu belum muncul di diri papa. Papaku yang berwajah gagah dan pawakaanya pun cukup bagus, akan tetapi papa jarang sekali menjadi imam kami di rumah. Bahkan sekalipun belum pernah papa melakukan itu! Mama tidak menyukai pekerjaan papa. Sudah lama sejak aku masih di pangkuannya, tetapi papa tidak mempedulikan itu! Papa tetap saja melakukannya! Ketika adikku lahir pun, papa masih saja keluar kota. Tak tanggung-tanggung jika Papa sudah terlena dengan pekerjaannya,mungkin  tak pernah tebesit dalam pikirnya “Kapan aku pulang? Kapan aku bisa berkumpul dengan kedua anak ku? Kapan aku dapat selesai melakukan pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini layak buat ku dan keluarga ku? Apakah keluargaku ridho dengan kepergianku selama ini?. Papa pulang sebulan sekali atau bahkan hanya jika kita sangat membutuhkannya. Itupun harus menunggu alasan yang muncul dari ucapan kebohongannya dulu.
Papaku sangat berbeda dengan papa yang lain. Bahkan Papaku jauh dari figur seorang papa. Teringat masa kecilku, dulu saat aku duduk di bangku SD kelas 3, aku selalu iri dengan teman-temanku yang selalu di anter-jemput dengan papanya. Teman-temanku dipeluk dan dicium keningnya di hadapanku. Aku tak tau bagaimana rasanya itu. Saat itupula, aku membayangkan papaku datang. Papaku melakukan hal yang sama seperti papa temanku lakukan. Tapi.. boro-boro seperti itu, papaku saja enggan saat kumintai pergi mengambil raport ku.

Saat itu temanku Zera bertanya ‘’Papamu kerja apa sih, Rhine?”.
Aku bingung harus menjawab apa, karna keluargaku hampir seluruhnya berdagang pakaian aku pun menjawab begini,“Papaku jualan baju di ciamis.” (Saat itu papaku buka stand di pasar malam)”.
            Zera pun berkata “Wah, enak dong! Berarti kamu punya banyak baju di rumah?”.
            Aku pun menjawab,”Nggak enak lah! Papa ku saja jarang di rumah”

Aku tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Zera. Aku takut jika ia bertanya padaku dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab. Aku khawatir keceplosan dengan jawaban bahwa “Papaku seorang lelaki yang berjualan di pasar malam”. Entah kenapa aku tak menyukai kalimat “pasar malam”. Aku selalu menganggap seorang yang pekerjaanya jualan di pasar malam itu adalah seorang pemuda yang kehidupan keluarganya tidak baik, karna sering pulang malam dan jarang bersosialisasi dengan sanak saudaranya. Walaupun terkadang banyak sekali pemuda di pasar malam itu dapat care dengan teman se-konconya tetapi belum tentu pula ia dapat care dengan keluarganya. Maklum saja, mayoritas yang berjualan di pasar malam itu adalah pemuda yang pol-polnya ia baru nikah muda dan usianya juga masih muda. Tapi yang masih setia dengan kehidupan pasar malamnya itu ialah papaku. Hampir 17 tahun, papaku melakukannya dari saat aku masih di kandungan mama dan hingga saat aku menduduki masa remaja dengan berstatus pelajar SMA. Ia dapat bertahan tanpa memikirkan keluarga yang di rumah dan masih saja menikmati kehidupan “luarnya” itu. Meski aku merasa tercukupi dalam kehidupanku secara, akan tetapi kasih sayang yang diberikan papaku bagiku tak ada.

            “ Yang jelas ku menanti dan terus menanti sebuah keajaiban akan perubahan dalam kehidupan papaku ini dari matahari terbit di barat dan hingga terbenam di timur”.
                                                          
0o0o0o0o0

            “Embun di pagi buta menerbarkan bau basa... detik demi detik kuhitung inilah saat ku bangun......”

Minggu yang cerah mengawali hari yang indah ini aku pun terbangun dari tidur ku yang nyenyak akan semalaman bergadang mempelajari teori revolusi oleh darwin. Sempat terpikir oleh kubayangan papa yang muncul di mimpi tadi memeluk diriku dan akan mengucapkan  happy birthday yang ke 17 tahun umur ku, “Sudah sebulan papa berkelana di daerah awam kapan papa pulang?”.batiin ku, akhirnya ku ambil hape di atas meja belajar dan ku tekan tombol perintah call your papa (karna di hape nomer papa ku tuliskan papa) ku tunggu lantunan suara dari papa dan ku tak sabar mengatakan kepada papa atas keberhasilanku telah mendapatkan juara OSN peringkat 3 besar dalam bidang science.

lalu suara itu pun muncul suara khas papa yang logatnya keras namun lembut itu segeralah    ku berkata “Assalamualaikum papa”
 Papaku menjawabnya”waalaikumsalam etss tumben nih telephone anak papa?”
Aku : “ya udeh pa aku matiin nih hpnya engga usah nelphon papa deh”
Papa pun menjawab kembali menjawab ”hohoy ditanya gitu aja kamu malah kagolan e nak kan  papa cuman bercanda”
Aku : “ya...ya...yah....papahh...(gremeng ku atas kegemesan kepada ucapan papa tadi)
Papa : ”iya rhine....maafkan papa oke....”
            “eh ya gimana nih kabarmu nak sehatkan....ada kendala apa nih di sekolah??”
Aku :”haha oke deh papa sieph...baik kok papa sendiri gimana nih hahay....kalo kendala siih engga    ada....papa kapan bisa berkumpul dengan kami??”
Papa : “papa belum tau kapan bisa pulang nih rhine.....soalnya papa jaga stand sendirian”     “belajarnya gmna nih sukses kan?”
Aku : “sukses kok papa ku akan mempertahankan prestasi ku di sekolah”
Papa berkata lagi “bagus deh pinter banget nih anak papa....eh ya kamu butuh uang lagi tidak sa apa yang kurang biaya sekolahnya lagi?”
Aku : “emm kalo uang jajan kurang pap tapi kalo mau dikirim lagi boleh-boleh aja hehe aku masih ada kurang biaya sekolah sebulan kok pap”
Papa : “oke deh kalo gitu papa akan mengirimnya kembali lewat transfer bank kamu ya”
Aku :“hehe makasih papa” “wasalamualaikum”.

Setelah menutup telpon dari papa aku pun bergumam (Tumben banget aku bisa seramah dengan papa untuk kali ini..), yah...karena aku biasanya selalu telpon jika saat-saat ku membutuhkan uang saku lebih atau untuk membayar uang spp saja, --sejak aku lulus bangku SMP mamaku menyerahkan pembayaran uang spp sekolah kepada papa--
.
Tak lama kemudian terdengar gerakan kaki seseorang yang akan menaiki anak tangga menuju arah kamarku, lalu ia mengetok pintu kamar ku dan berkata “rhine, rhine, sudah bangun?”, aku pun menjawab “sudah mama, sebentar ku bukakan pintunya”.
“Ada apa mama?”, “mama tau tidak barusan saja aku menelpon papa dan ia berkata bahwa nanti sore akan menuju perjalanan ke rumah”.
Mama : “benarkah?, lalu apa kata papa rhine?”
Aku : “aku sih mengharapkan papa bisa harmonis gitu ma saat telpon dengan ku tapi, papa tidak mengatakan apa-apa tentang mama cuman papa akan membayar biaya spp ku ma”
Mama : “ya sudah kalo begitu....” “ eh ya nak rapikan tempat tidur mu dan mulailah bersih-bersih rumah ya karna tante mu akan berkunjung kerumah sekarang....”
Aku : “oke deh ma sip....”

Lalu ku mulai membersihkan kamar ku, mulai dari buku-buku yang berantakan ku susun dan ku letakan di rak buku dan pakaian yang tercecer di lantai ku ambil dan ku pilah mana yang kotor dan yang bersih lalu ku sapu kamar sehingga tidak ada debu dan kotoran yang ada di kamarku, yah inilah kondisi kamar ku dimana saat akhir pekan aku pun harus merapikan barang-barang yang setiap harinya jarang sekali aku menatanya.

beberapa menit kemudian.....
“ahhhh..... akhirnya selesai juga membersihkan kamar sang putri rhine haha ternyata cepat juga selesainya, akhir pekan yang seharusnya waktu yang tepat untuk bermain bersama teman sebayaku tetapi ku peluangkan untuk membereskan pekerjaan rumah terlebih dahulu”, aku pun menyender di dekat pintu kamar dan menggumuni suasana kamar yang benar sangat rapi dan bersih (untuk sesaat saja), yah itulah kelakuan ku terhadap kamarku sendiri yang terkadang lengah untuk merapikan kamarnya sendiri.... tidak tanggung-tanggung kenapa aku bisa lengah terhadap kamarku, mungkin karna diriku adalah seorang aktifis di sekolah, sehingga untuk pulang menuju rumah saja hingga ralut malam, sehingga sesampainya di rumah hanya beristirahat. Walaupun sebaiknya kita bisa membagi waktu dalam pekerjaan rumah dan pekerjaan di sekolah.

o0o0o0o0o0o0o0o0o

“terpikir oleh ku mengapa tanteku tiba-tiba mengunjungi mama dan mengapa rasanya aneh begini, okelah semoga saja tak terjadi apa-apa”

Ku siapkan diriku dengan mandi dan sarapan.....
Ehmm that right awal yang indah walaupun dengan suasana yang biasa aja
Ting,,,tong,,,ting,,,tong,,, “bel rumah berbunyi dan bergegas adik ku membukakan pintu rumah” terlihat sosok wanita beridiri di depan pintu pawakannya yang slim, ellegant dan wajahnya pun masih muda manis pula seperti dengan mama ciri khas wajah melayunya masih tertera di wajahnya walaupun ia lebih tua dari mamaku....
Yah itulah tanteku akhirnya tiba juga.
“eyy rama mana mamanya??
“ada tante tuh lagi ada di dapur , masuk aja tante”.
“eitss bentar dulu, toss tangan dulu dong jagoan tante ini”
“haha oke deh tante...”
Tanteku pun masuk dengan adiku, ya rama itu adik cowok ku semata wayang, aku dua bersaudara dan dia adik ku satu-satunya, dialah yang akan menggantikan papaku kelak jika papa telah tiada.

Rama seorang adik yang usil, jail, terkadang konyol di hadapan ku dan temannya akan tetapi dia sosok yang friendly dengan orang yang berada di sekitarnya, dia berumur 15 tahun dia kacek (bahasa orang jawa kalo mengatakan selisih) 3 tahun sama aku tapi sosoknya kaya seumuran haha... apa lagakku yang kaya kekanak-kanakan, sehingga ku dapat menyimpulkan seperti itu terhadap dia, tapi tak apa lah karna dia adik yang sangat membantu aku pokoknya.

o0o0o0o0o00o0o
Tak lama waktupun berjalan aku melangkah menuju halaman belakang untuk menghirup udara sejuk dan melakukan pekerjaan rumah yaitu menyiram tanaman koleksi aku dan mama yah...mama dan aku sangat menyukai berbagai macam bunga-bungaan mulai dari yang berharga sampai dengan yang memiliki karakter-karakter yang unik dari bunga-bunga itu, namun dipertengahan jalan menuju halaman belakang aku mendengar seorang wanita menangis tak henti-hentinya iya menangis dengan suara yang cukup tegar ia menceritakan seluruh permasalahan yang ada pada dirinya itu.
Aku pun tak sanggup mendengar suara itu dan aku pun tak ingin wanita tersebut mengalami kehidupan ini, disakiti dan tersakiti atas ucapan sang cesper, aku berharap kelak wanita itu dapat hidup bahagia semoga saja. Wanita itu adalah mamaku yah ia menceritakan keluhkesahnya kepada tanteku, aku tersadar bahwa masalah ini tidak gampang di selesaikan karna begitu banyaknya rahasia yang disimpan oleh sang cesper, sang cesper dapat mudah sekali meluluhkan hati seseorang termasuk mamaku, dia dapat berkata seperti seorang yang

Tanpa disadari aku menguping pembicaraan itu hingga akhir cerita, saat itu aku masih berada di depan pintu ruangan, dan terdengarlah suara ceklekan pintu itu menunjukan bahwa seseorang dari salah satu yang berada dalam ruangan itu pun keluar, maka bergegaslah aku melarikan diri dari depan pintu menuju kamarku.
                                           
o0o0o0o0o0o0o0o

Saat di kamar.....
Ku rebahkan badanku diatas tempat tidur, dan saat itupun aku masih mengingat pembicaraan yang ku dengar dibawah tadi, sakit hati ini mendengar berita itu, aku tak mengira bahwa ini akan menjadi akhir dari sebuah hubungan, aku juga tak mengerti apa maksud dan tujuan dari semua yang dilakukan sang casper itu terhadap mama dan aku, dan aku tak sanggup menahan kepahitan yang dialami oleh mamaku ini.

Saat itulah aku tersadar bahwa hidup harus dengan pilihan, dan hidup selalu ada kesedihan dan kesenangan, akan tetapi kali ini yang dirasakan oleh mamaku adalah kesedihan yang mendalam muncul dari lubuk hatinya.

Apa yang kupikirkan saat itu benar-benar ngaco dalam benak pikiranku, ku selalu bernegatif thinking tentang papa dan selalu menyalahkan posisi papa, dan tidak berhenti-hentinya aku menyalahkannya. Tetapi itu semua sudah kehendak Tuhan dan itupula jalan hidup papa.
Mama bisa bersedih hatinya karna kelakuan papa yang tidak beres, ternyata rahasia yang disimpan oleh papa, yang ditutupinya itu terdengar pula oleh mama, sejak aku masih kecil hingga saat ini mama menyimpan semua rahasia itu sendirian, tanpa menceritakannya kepadaku, papa ku seorang casper yang mudah saja menghilang dan muncul tiba-tiba, yang dapat menarik hati orang disekitarnya sehingga dapat luluh akan tutur katanya dan laen-laen.
“Aku bermohon dan selalu memohon agar muncul sebuah keajaiban setelah hari ini, dan tidak ada lagi perslisihan antara mama dan papa sehingga kembali lagi rasa kasih sayang antara sesama mereka”      
          
o0o0o0o0o0o0o

Alarm jam berbunyi... “good morning...good morning....good morning”
Aku terbangun mendengar alarm itu dan segera ku awali hari ini dengan membasuh muka ku dengan air wudhuku dan bergegas ku melakukan sholat subuh di awal senin ini, dengan sholat subuhku itu membuat badanku semakin fresh lalu ku mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah....
Seperti doaku kemaren bahwa hari ini aku berharap datangnya keajaiban dalam kehidupan keluarga ku, ya semoga saja itu terlaksanakan.

Tapi yang tidak diinginkan terjadi di siang hari ini, bel lonceng sekolah berbunyi itu tandanya pelajaran untuk hari senin ini telah selesai dan segera aku pulang menuju rumah bersama teman sekelasku yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan ku.

Sesampainya sampai di rumah.....
Aku menuju kamar dan mengganti seragamku dengan kaos dan celana... .
Saat itu mama sedang menonton TV di ruang santai sambil memegang HP, dengan sibuknya mama mencari nomer orang dan mulai menelponya, tepatnya disebelah mama rama duduk dengan membawa buku komiknya yang berjudul “detektif conan part 2002”, si rama sangat gemar sekali membaca komik, dan dia termasuk pengkolektor buku komik dari berbagai negarapun ia memilikinya.
Disaat itu aku sedang berada di kamar mendengarkan musik yang ku setel lewat HP ku sambil tetiduran di kamar, dan entah mengapa muncul firasat dari benakku bahwa mama sebenarnya menelpon papa. 

Tak lama kemudian terdengarlah dialog antara mama dengan papa :
Mama : “salamualaikum” “uda....”
Papa : “adoh apo dek?”
Mama : “baako kata uda uang lai di transfer siang iko tapi uda baduto ka den lai”
Papa : “iyo lai uda transfer tapi urang nan mantransferan itu ndak kamari doh nyo....ndak adoh urang nan manjagani tampek iko klo uda ka bank nantinyo...”
Mama : “iyolah.... uda mah sanangnyo  seperti itu baduto taruih jo den... iyo itu salahnyo kenapo harus jauih-jauih julan sampai ba bulan-bulan ndak pulang ka rumah apo ndak sayang lagi ka anak uda dan den ndak butuh lagi doh materi dari uda den hanya butuhnyo udan seperti uda yang umumnyo pulang ka rumah setiap hari dan adoh di rumah doh.... ndak saparti saat iko nan jauh dari kaluarganyo” “ambo nak tanyo ka uda sampai kapan uda saparti itu keliling taruih tampo mikir kaluarganyo dirumah iko dan tak jaleh hasil yang didapekan dari kaliling itu”.
Papa : “apo maksud adik iko….. mambangihi uda taruih… jaga tuh cakap adik ndak baik didanga jo anak-anak…. Iyo den ka kaliling sataruihnyo…”
Mama : “o jadi uda manyalahkan ambo mambanarkan saluruhnyo kece uda apa tu udah pantas di lakukan… baako uda saparti itu pada den den mangecek yang terbaik buek kaluarga, baiklah kalo itu mau uda bialah ba kaliling taruih hingga pulang ka rumah jo kakinyo patah ndak awak urusi doh uda sampai mati pun”
Papa : “saparti itu kecek kau ka den???” “den dangaan samapai adik puas mangecek”
Mama : “uda alah sakarang den ba takok ka uda….
             “uda sanang kasana kamari katampek janda tuo tuh manginap bapinjam pitihnyo kan?”
             “uda tak menghargai den mambangih sajo pada den pulang ka rumah membangih sajo…apa tu cakap patut didengar anak-anak…. Bialah den mangatakan saparti ini anak-anak mandanga awak batangka, uda sajo nan indak bisa menempatkan posisi uda sebagai ayah bagi anak-anaknyo ndak adoh kasih sayang uda ka kami satupun doh.”
Papa : “apo kecek adik ko mamfitnah den sajo baako…. Den ndak pernah lagi ka jando tuo tu bapinjam uangnyo pun dah lunas den beai kamaren….” “kecek saako tu??”
Mama : ”samua kaluarga uda dan den alah tau sadohanyo kalo uda baduto taruih mengecek…” “sikap uda tu ndak baik doh.”
Papa : “iyoyolah satarah adik lah bana nyo di adik….”
          (dengan rasa kesal…)

Saat itulah aku menyimpulkan pantas atas ucapan ku yang mengatakan bahwa papa sama dengan casper yang tak dapat terlihat oleh orang lain dan muncul hanya sesaat saja di hadapan keluarga.....
This entry was posted in

Senin, Juni 4

soulmate in my life



            Sang mentari mulai menampakkan sinarnya menembus batas jingga yang menutupi cakrawala. Daun daun berjatuhan tertiup semilir angin. Aku mulai menikmati perjalanan pagi ini dengan secangkir kopi di tangan, kubiarkan tubuhku terguncang roda kereta yang mulai melaju meninggalkan  stasiun.
            Jogja, kota yang sangat eksotik. Membuatku ingin sekali sampai disana detik ini juga. Hhh... sebenarnya aku sudah menumpuk rasa kangen ini lama..... sekali.
            Tapi bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan studiku di Jakarta. Ayah... Bunda...Ira. Aku kangen banget sama kalian.
            Jogja, 3 jam-an lagi aku akan menginjak tanah kelahiranku setelah selama 5 tahun aku meninggalkan Jogja seperti apakah kini?
            Apakah mungkin sesorang yang selalu setia di hatiku itu masih menyimpan perasaan itu padaku?” batinku memendam harap.
            ”Ingat Lan kamu udah ada yang punya, lagian mana mungkin sih 5 tahun dia bisa setia nunggu harapan yang nggak pasti, dari orang kayak kamu lagi” bisik hatiku memberikan mendung yang kembali menyadarkanku tentang keadaanku saat ini.
            “Mau koran..??” satu suara memecah kebisuanku yang dari tadi memang sengaja tak bersuara. Aku berusaha untuk tidak menampilkan ekspresi kagetku.Terlihat seorang cowok yang tersenyum sangat hangat padaku.Tangannya yang putih mengulurkan koran harian edisi hari ini. Buru-buru kualihkan pandanganku dari cowok tersebut.
            ”Inget Lan, kamu udah ada yang punya.Jangan kotori hatimu dengan orang lain” satu bisik halus mengembalikan batas sadarku.
            “Makasih, nggak usah nanti ngrepotin” tolakku halus.”Nggak ngrepotin kok maksudku sekalian cari teman ngobrol. Aku lihat kamu dari tadi ngelamun terus kayak ada masalah yang berat banget kebetulan aku juga lagi suntuk nggak ada teman ngobrol. And if you can, I want to sharing with you about my problem. Because in this train if I see  you have a wise face”.
            Mau tidak mau aku cukup tersanjung dengan omongannya barusan. ”Mmm.... it’s okay..” bibirku mengembang membentuk sekulum senyum yang menurutku cukup manis. Semanis langit pagi ini.
            “So..?” ucapku akhirnya.”Can I sit here?”. ”Yep,sure”. Pandanganku tertoleh ke bangku sampingku yang kosong.
            Sejenak kebisuan meliputi kami. Aku hanya sibuk memainkan jemariku sedangkan dia... kulihat dia sedang sibuk meremas-remas rambutnya yang bisa kubilang sangat keren. Sungguh ini seperti mimpi bagiku tiba-tiba saja saat hari masih sepagi ini ada seorang pangeran duduk disampingku dan mengajakku ngobrol. Woow... dan gawatnya dia benar-benar membuatku terpana with his ebony eyes, pointed nose, and the tall body. Mmmm....ideal
            “What’s problem?” tanyaku akhirnya dengan berusaha menetralkan perasaanku.
“I don’t know, suddenly aah...!!!!!” tiba-tiba saja dia menjerit tertahan, walau begitu penumpang di seberang kami menoleh dengan raut muka keheranan. Dan aku berusaha menjawab dengan senyum pertanda tidak terjadi apa-apa disini.
            Sebenarnya akupun heran. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja ada seorang cowok yang menawarkan koran padaku lalu mengajakku ngobrol dan tiba-tiba saja dia kelihatan seperti sangat depresi. Ada apa sebenarnya???
            “Just rileks please....!”. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam. ”Kalau boleh aku mau minta pendapatmu. About something that make me so confuse, but I dont want to talk it . So... aku bingung mau bilang sama kamu pake cara apa”
            Lama kami sama-sama terdiam tidak tahu apa yang mesti harus diperbuat.
            “Ada dua alternatif untuk ini. Kamu sms aku dan ceritakan apa masalahmu yang kedua kamu sediakan kertas dan kamu ceritakan semuanya”. Tiba-tiba saja aku merasa menjadi orang paling penting sedunia “kok kayak psikolog gini sih hi hi hi” batinku sambil keheranan
            Jujur sifatku yang mudah empati dengan orang lain mendorongku untuk memberi perhatian lebih pada lelaki ini siapa tahu aku bisa meringankan masalahnya yah... paling tidak.
            Akhirnya dia memilih menuliskan semuanya  di selembar kertas yang di masa depan kusebut sebagai kertas penyesalan.
            suatu hari seorang pangeran yang tampan bertemu dengan seorang putri dari mas lalunya yang sangat dia cintai. Namun rasa cinta itu terpaksa dikuburnya dalam-dalam mengingat sang putri  tlah pergi meninggalkannya. Sejak saat itu dia mencoba mencintai putri lain yang ternyata sangat mencintainya. Namun suatu hari dia bertemu dengan putri yang dulu sangat dicintainya.Saat rasa cinta itu masih ada putri itu datang namun dia tak mungkin meninggalkan putri lainnya yang selama ini tlah menemani dan mencintainya. Namun dia masih sangat mencintai putri dari masa lalunya tersebut walau pangeran harus memendam rasa itu dalam-dalam dan hanya bisa menggantung perasaannya. Karena jujur a pangeran takut jika dia harus patah hati jika nanti perasaan itu diungkapkan. Kini pangeraN harus benar-benar memilih siapa yang akan PANGERAN cintai sepenuhnya sebagai pelabuhan cinta terakhirrnya”.
                        Lama, kucoba resapi semua yang menjadi masalahnya.Hingga akhirnya aku mengambil kertas itu dari tangannya dan menuliskan sesuatu yang menurutku paling benar saat itu.
            Bersyukurlah pangeran karena dia telah merasakn bagaimana sakitnya mencintai tanpa harapan pasti. Paling tidak pangeran bisa menghargai putri yang telah mencintainya dengan sepenuhnya karena pangeran tak ingin rasa yang sama harus dirasakan sang putri. Saat orang yang dicintainya tak tahu perasaannya dan ia menantinya dengan perasaan cemas dan luka.Menurutku... pangeran lebih baik mencintai putri yang telah mencintainya sepenuh hati. Karena putri itu telah menerima kekurangan pangeran kalau tidak mana mungkin ia mencintai pangeran??? Lebih baik berusaha mencintai orang yang benar-benar mencintai kita daripada harus menggantung perasaan cinta pada orang yang belum tentu mencintai kita.
                        Kuserahkan kertas itu padanya, dengan penuh perhatian dia membacanya seakan-akan dia telah masuk ke dalam duniaku yang telah kuciptakan di selembar kertas tersebut.
            Tatapannya menyimpan luka ynag mendalam. Ada kabut di matanya sepertinya kabut itu membawa nuansa duka yang sangat tajam.
            Tiba-tiba dia beranjak pergi dari bangku di sebelahku. ”Hey... mau kemana?” tanyaku padanya. ”Ijust think about this” dia mengacungkan kertas itu padaku.
            Aku menganguk.”Biar sajalah sesorang memang butuh waktu untuk memikirka yang terbaik untuk dipilihnya sebagai jalan hidup” batinku pelan.
            Dan episode perjalananku di kereta berakhir disitu.Karena aku segera menginjakkan tanah kelahiranlu itu.Jogja.
***
            Sampai di stasiun jogja,aku segera naik angkutan kota jurusan UGM,sengaja aku nggak ke rumah lebih dulu. Rencananya aku pingin mampir di UGM sebentar buat nunggu Melati selesai kuliahnya lalu aku akan ngobrol tentang banyak hal yang mulai berubah di Jogja.
             Di UGM,aku sampai disana kira-kira pukul 10pagi.Dan aku ketemu dengan temen-temen lama SMA .
            Mulai Sisi si kutu buku yang nggak tahu kenapa sekarang jadi gaul..... abies,Edo cowok blasteran Belanda Padang yang dulu sempet naksir aku tapi kutolak gara-gara nenek moyangnya pernah jajah negara kita(tapi itu sih cuma alasan klise yang sengaja kubuat-buat hahaha...) habis orangnya protektif banget sih ,Reni bawel,sampe si Nadia yang dulunya sempat jadi cover girl di salah satu majalah remaja terkenal.
            Setengah jam-an lah aku ngobrol-ngobrol sama Reni ma Edo ,but where is Melati??? Kebetulan Reni ma Melati satu fakultas dan Reni udah ngobrol sama aku 15 menit  yang  lalu.
            Tapi kok Melati nggak dateng-dateng padahal udah kusms berkali-kali biar dia tahu aku nungguin di kantin.Bukan apa-apa tapi aku kangen berat nih...maklum di SMA dia sobatku yang paling dekat sama aku.Yah BFF gitu loh...Best Friend Forever.
            Sampai jam satu aku nungguin dia tapi kok nggakmuncul-muncul .Ceritanya lumutan nih saking lama nunggunya.Gila ah secara seorang Lani disuruh nunggu 90 menit.Oh nooo....back to home aja lach...
            Sampai rumah Ayah ma Bunda pergi.Katanya sih ke hajatannya  teman lama.
Untung De’ Ira di rumah jadilah dia heboh sendiri menyambutku.
            “Mbak Lani....... aku kangen banget kenapa baru pulang si...hhh?”Ira langsung berlari menghambur  memelukku.Aku cuma senyum-senyum sendiri lihat tingkahnya yang segitunya.
            “Dek aku bawa oleh-oleh buat kamu.Dilihat ya”.”Oh my good... kakakku baik banget.Mmm..... aku juga punya banyak cerita sama kamu jadi siap-siap dengerin aja ya”
            “Emang oleh-oleh buat aku apa sih?”tanyanya sambil misuh-misuh .” Aku bawain kamera dek buat kamu.Kamu suka jurnalistik kan?”.”Ahh Mbak Lani kirain apaan  sorry ya mbak tapi sekarang aku nggak suka lagi sama jurnalistik”.
            ”Lho.. emang kenapa dek,kayaknya kemarin mbak buka FB kamu bilang suka jurnalistik?”tanyaku keheranan”Yah... berarti hadiahku sia-sia dong padhal buat beli kamera ini aku mesti ngumpulin setengah uang jajanku bulan kemarin”batinku. 
            “Habis,aku dah putus sama Ryan.Dia selingkuh mbak sama rivalku.Dan aku nggak bisa nyalahin cos aku juga ngrebut Ryan dari Jihan.Padhal yang bikin aku seneng sama jurnalistik ya si Ryan itu.”
            “Hahahah.... dek dek kamu tuh ada-ada aja.Berarti kalau kamu pacaran sama orang yang suka sama marmut berarti kamu juga harus suka sama marmut dong.Hahaha....”
            “Ih.Lani jangan gitu dong masa sama marmut nggak gitu banget kali.Lagian siapa mau pacaran sama penyuka marmut.Ih,jijay bajay.”Ira berlalu meninggalkanku .Hihihi
***
            Malamnya keluargaku merayakan kepulanganku dengan makan-makan bersama di Restoran Chineese kesukaanku(gaya dikit euy).
            “Waitress,the menu please”Ira menjentikkan jarinya dengan penuh gaya.Aku ketawa
aja liat   gayanya kayak gitu.
            “Surprisse,baby.”ujar bunda dengan pandangan penuh arti.Dan... ini memang benar-benar surprisse buatku.Bunda pesen hampir semua menu istimewa di resto ini.Oh my good..
            Setelah itu papa mengajak kami jalan-jalan malam keliling Malioboro. Dan tentu saja aku memulai hobiku  buat mengoleksi pernak-pernik assesoris. Hi hi hi lumayan jarang-jarang ada moment seistimewa ini. ”Mbak,beli yang ini aja Ithink... silver itu lebih baik daripada hitam deh” tanyanya sambil memilin-milin kalung yang lolos kuseleksi itu.

Dan akhir dari story malam ini semuanya HAPPY ENDING.
***
            So paginya aku harus memulai planning-planningku di kota ini untuk hari pertama. Oh ya ada satu moment  yang sempat terlupa tadi malam aku sempet online-an sama Melati. And that...
            Me : Met malem gimana kabarnya, Mel? Tahu nggak aku udah balik ke Jogja dan tadi aku sempat nunggu kamu di kantin kampus tapi kok kamu nggak muncul-muncul padahal aku kangen bangt sama kamu.
            She : Aduh Lan sorry.. banget aku tadi lagi ngurus skripsi. Kamu sih enak udah lulus, nah aku kapan juga ini mau lulus.
            Me : kalau besok kamu ada free time nggak??
            She : mmm... ada .Mau ketemuan?? aku kangen nih
            Me : Oke. I miss u too..Besok pagi kutunggu jam 9 di cafe Akiratsu. Salam BFF ya. Ha ha ha ha...
            She : Ha ha ha. Good night.
***



Jam 09.00 wib Akiratsu Cafe
            “Gila.... jadi  feminim banget kamu Lan..!!!” seru Melati saat melihatku. ”It’s surprisse for you baby”ujarku sambil tersenyum simpul.
            Hhhmp kalau dipikir-pikr emang hari ini aku jadi lebih feminim. Tapi nggak banget kok... Biasanya di Jakarta juga aku stylenya beginian.
            Ya iyalah of course aku jadi feminim di matanya dia. Orang dulu kalau aku lihat styleku dulu waktu terakhir ketemuan ma Amel rambutku kusanggul masukin topi pake baju cowok. Nah sekarang aku pake rok, rambut kugerai pake bandana lagi.
            “Kamu mau aku kayak cowok lagi kayak dulu itu. Bukannya sebagai perempuan kita  mesti menjadi apa yang semestinya dikodratin ama kita. Kapan nyusul???” tantangku. Eehh dianya malah cengar-cengir.
            Melati yang dulu sama Melati sekarang nggak jauh beda. Melati dengan celana pendek selutut dan kaus hitam pendek. Namanya sih memang Melati tapie style of  lifenya dia bener-bener nge- boy abieesss. Dan itulah yang bikin aku suka dari Melati, nggak terlalu  peduli dengan fashion.
            Oh ya dia juga nggak suka kalau dipangil Melati. Gadis manis yang masih keturunan ningrat dari Sri Sultan HB itu lebih suka dipanggil Amel. ”Ya suka-suka aku dong. Emangnya  siapa yang punya hidup. It’s my life” jawabnay saat ditanya eyang kakungnya yang terkenal kejawen tulen.
                        Dan akhir cerita dari kisahnya saat itu.Katanya sihh... dia langsung dihukum  sama romonya disuruh  belajar unggah-ungguh tatakrama dari sepupunya Astika yang katanya bener-bener nge-princess gitu deh stylenya. Hihihi...
            Ups, balik ke topik. Aku  langsung ke meja yang kayaknya emang sengaja udah dipesen sama Amel. Kulihat dia duluan yang dateng.He he aku cengar-cengir pasang muka tanpa dosa. Kalo nggak salah aku  udah telat sepuluh menit dari perjanjian awal.
             Dia membiarkanku duduk. “Kok telat...”gerutunya.”Biasa Indonesia nggak jam karet nggak spesial dong” jawabku kalem.
            “Iya percaya yang udah jadi orang Jakarta. Jadi kebiasaan nelat deh....”
            “Eh jangan gitu ya. Di Jakarta aku malah nggak pernah telat. Habis Jogja sekarang banyak perubahan jadi tadi aku sempet lupa arah jalan” ujarku malu.
Tadi aku emang sempet lupa arah jalan, ternyata arah ke kafe udah dibangun jembatan baru .Ya wislah the end of my story aku musti muter-muter dulu cari jalan. “Habis  yang bikin jalan nggak bilang-bilang sama aku sih kalo mau mbuat jalan baru”kilahku sambil mesam-mesem
            “Ya elah mbakyu..... ngapain bilang ke situ. Emang siapa situ siapa dia. ...”
“Ya kan bisa sms. Lani yang cantik, ini jembatan udah saya bikinkan khusus buat kamu lho.....besok klo kamu balik ke Jogja silahkan dinikmati ya...”
            “Hahaha...  kayak jalan punya mbah buyutmu aja. Mbak Lani nunggu seabad lagi ya soalnya smsnya itu agak lola udah dikirimin dari kemarin  Cuma ya gitu deh....”
            “Siap bos......” jawabku sambil hormat gaya tentara mau berangkat perang.
            “Tapi serius deh Lan, kamu sekarang tambah cantik. Style mu itu loh.....ya ampun gibolll. Bayangin seorang Lani yang kata orang ngeboy abiesss auwww.. ”Buru-buru kucubit dia abis ngapain sih dikomentarin terus orang ini kan aku pingin berubah biar jadi perempuan sejati.
            “Udah deh nggak usah komentar terus. Ehh ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum Mel?”
            “Ah, si Lani mah katrok aku udah mau tunangan Lan.... “
            “Beneran Mel? Sama siapa?Orangnya cakep nggak? Tajir nggak?” ujarku memberondong pertanyaan.
            “Aduh si Lani ini kalau tanya satu-satu atuh Mbak. Aku bilangin ya... pokoknya orangnya itu dulu satu almamater kita di SMA. Cakep, tajir, pinter, suka menolong and nggak sombong. Sayang orangnya dulu kurang deket ama kita.Jadi.... ya gitu deh”.
            “Siapa sih Mel?”
            “Besok kamu juga bakalan tau kok. Tenang aja...”
            “Siapa dong Mel nama panggilannya aja deh” tawarku
            “Udah ah besok kamu juga bakal tau. By the way kamu selasa ada acara nggak. Kalo nggak ada temenin aku ke jalan yuk cari souvenir..!!Yuk, masak Lani nggak nemenin Amel sih kan BFF “rajuknya manja.
            “Iya. Iya ,besok coba tak luangin waktu buat mbak Amelku tersayang ini”
            “Nah gitu dong..kalo kamu udah punya belum?”
            “Hhhm... udah sih tapi nggak tahu nih hatiku malah lagi nunggu seseorang yang lain”. “Lho kok?”
            “Ada seseorang dari masa lalu yang aku tunggu. Nggak tahu yang ditunggu nyadar apa nggak.
            “Emang siapa sih Lan? Kok kayaknya kamu berharap banget”.”Dulu SMA satu sekolah sama kita.Tapi kamu nggak bakalan nyangka udahlah...”
            “Eh sampe lupa, belum pesen menu lho” cetusku mengingatkan. ”Mbak...” teriakku memanggil waitress yang jalan 3 meja dari mejaku.
            “Pesen apa mbak” ujar waitress itu akhirnya. ”Capuccino dua mbak .Yang spesial ya...”kataku sambil menunjuk daftar menu.
            “Bener kan?” tanyaku pada Amel selepas si mbaknya pergi”Bener kok ,aku seneng aja kamu masih inget menu favorit kita”
            “Of course lah.Never forget forever”
            Dan obrolan-obrolan lain mengiringi kami setelah capuccino itu datang.Menarik, banyak hal yang kami obrolkan.Enggak tahu kenapa kalau sama Amel semua topik bisa jadi bahan obrolan.Tapi kalau sama yang lain.Aduh jangan tanya deh.Harus mereka yang ngawalin soalnya lidahku rasanya kelu buat ngawalin obrolan.

***
            “Lan, tadi Devan telfon sayang. Katanya udah berkali-kali nelfon ke hpmu nggak diangkat-angkat. Dari nada bicaranya kayaknya ada hal penting yang mau dibicarain sama kamu deh nak” kata mama di dapur  selepasku dari kafe.
            “Mmm iya Ma, emang hpku kumatiiin,abisnya lagi bosen nih Ma sama dia” ujarku. Maaf ma Lani bohong.
            “Lho sama pacar sendiri kok bosen. Nggak boleh gitu lo sayang. Nggak  baik lo mainin perasaan orang”
            “Abis gimana coba Ma selama ini Devan terlalu sibuk sama runtinitasnya hubungan kami juga datar-datar aja”.Sakit.
            “Oh ya udahlah kalau kayak gitu masalahnya. Tapi Lan sebisa mungkin nggak ada yang saling terpaksa dengan hubungan kalian. Kalau ada  yang terpaksa nanti urusannya tambah runyam. Lebih baik kalo banyak masalah diakhiri saja” kata mama penuh pengertian.
            “Iya mamaku yang cantik. Makasih nasehatnya. By the way lagi ngapain Mam kok tumben di dapur?”
            “Ini lagi mau masak buat makan malam nanti. Mau bantu-bantu apa, kok tanya-tanya segala?”
            “Emang nati malem ada acara spesial Ma?”. Sambil bercakap-cakap tanganku sibuk mencuci piring dan gelas yang kotor di wastafel.Nggak tahu kenapa hatiku selalu nggak tenang kalo lihat piring sama gelas kotor.
            So, kalo aku pulang Mbok Yem pasti seneng cause bakalan ada tukang cuci tambahan.Ya nggak papalah sekali-kali bantuin Mbok Yem. Lagian tugas Mbok Yem pasti berat. So nggak ada salahnya kan baik sama pembantu?Hehehe…….
            “Nggak ada apa-apa sih. Cuma kan udah jadi tekad Mama pokoknya mulai bulan ini urusan masak buat keluarga harus mama yang nyelesaian.” ujar mama bersemanagat kayak gayanya  Bung Karno waktu pidato di Lapangan Ikada. Hehehe
            Aku cuma bisa mesam-mesem liat Mama “Ya syukur deh kalo Mama mau berubah. Tapi kok mama mau-maunya bikin tekad kayak gitu. Dapat motivasi darimana Mam?” tanganku masih sibuk membereskan piring dan gelas yang sudah bersih sehabis kucuci.
            “Hhmmmp kemarin waktu Mama arisan ibu-ibu PKK di kampung. Ibu-ibunya pada mbahasin resep-resep masakan kesukaan suaminya. Waktu Mama ditanyain apa makanan kesukaan Papa ya jelas mama nggak tahu kan mama .....hehehehe” ujar  Mama sambil tersenyum malu.Muka mama merah banget. Ya, mama sih terlalu sibuk sama urusan butik. Jadi kayak gitu deh.
            Aku geli pingin ketawa.Tapi  nggaklah.Nggak tega.Hihihi “Ya udah ya Ma Lani ke kamar dulu. Bantu-bantunya besok aja, pumpung Mama sekarang lagi rajin, jadi sendiri pasti bisa” 
“Huh ,dasar anak wadon. Udah gadis kok nggak mau bantu-bantu mamanya”.
            “Peace ma”seruku sambil meringis, mending ke atas  aja lah. Aku  Aku pinginnya sih mau surfing cari-cari kerjaan siapa tau ada yang menarik. Tapi waktu lihat laptopku lagi di pake sama Ira aku tahu niat itu nggak bakal kesampaian. Cause siapapun penghuni rumah tahu kalau Ira lagi di depan laptop or notebook atau apalah semua benda yang ada di sekelilingnya bakal berubah wujud jadi batu. Sihir kali ya...hihihi
            Tapi bener deh, Ira kalau ketemu benda yang satu ini bakalan lengket terus kayak perangko sama surat. Pasti semuanya bakal tanya kenapa papa nggak pernah berpikiran beliin Ira laptop atau bahkan notebook sekalipun, cause kami  tahu dan hapal ketika dia dibeliin atau bahkan cuma dipinjemin sekalipun barang-barang idolanya, yakin deh  nggak bakalan lama awetnya.
            So, akhirnya aku mutusin buat  keluar  cari angin aja lah. Daripada di rumah ngak ada  kerjaan. Nggak lupa handycam kesayanganku kubawa. Siapa tahu di luar ada pemandangan menarik. Hunting foto bo!!!
            Kalau bicara about hunting.Hunting  and jurnalistik emang jadi salah satu hobiku .Tapi herannya nggak ada pikiran ke depan  biar aku jadi wartawan atau jurnalis sekalipun.
            Hari ini aku hunting-in Malioboro. Rasanya kangen banget udah lama nggak ke tempat eksotik itu. Motorku kuparkir di parkiran jalan ,enogh to walk .Jalan aja ngak tahu kemana.
            Sekarang di tempat yang dijuluk The Broadway of Jogja oleh komponis tanah air tercinta Ismail Marzuki dan Usmar Ismail dalam lagunya Malioboro bener-bener berubah. Pokoknya sekarang semua jadi seba asing. Malioboro yang makin hari makin sesak plus sumpek. Pedagang- pedagang lesehen yang mau nggak mau bakalan nyerminin kondisi this my beloved city tercecer dimana-mana.
            Bahkan banyak teman yang bilang sekarang Malioboro bau pesing di beberapa part placenya.Ya nggak papalah mungkin itu cuma sementara. Sebagai warga Jogja yang baik aku percaya aja pemerintah bakal memperbaiki semua ini.
              Sengaja abis muter-muter lama aku mampir di warung angkringan, my favorite place dulu waktu masih SMA. And you know what, dear baby aku ketemu lagi sama cowok yang kemarin ketemu di kereta.
            “Mbak wedang rondenya satu ya mbak” pesanku pada si mbak penjualnya. ”Saya  juga mbak” ujar sebuah suara di sebelahku. Refleks aku noleh ke si empunya suara itu. Kok bisa-bisanya nyama-nyamain sih, pikirku.
            “Kamu...!!!!” aku terlonjak kaget. Ups, ternyata dia cowok keren bin gila yang kemarin ketemu di kereta. ”Hai apa kabar?”senyumku mengembang. Aduh,dia juga balas senyum. Kerennya....batinku.
            ”Lani..... udah ada Devan di hidupmu, nggak usah mikir yang aneh-aneh deh” sisi hatiku yang lain mengingatkanku.
             ”Baik.Kamu?Masih ingat aku?”serunya ceria.
            “Of course lah, siapa sih yang nggak kenal sama cowok yang tiba-tiba aja teriak histeris di gerbong kereta yang lagi sepi-sepinya.Persis orang gila”sindirku. Eeh, dianya malah ketawa pake tampang tanpa dosa.
            “Sorry ,kemarin aku emang lagi agak stress”.
            ”Nggak agak tapi emang”balasku ketus. “Iya deh, iya.Oh ya, kita kan belum kenalan.Kenalin aku.....”belum sempat si cowok nyelesain omongannya yang super nggak mutu itu aku dah nyambung.
            “Emang siapa yang mau kenalan sama kamu!!!” usilku.Sebenaranya nggak tega juga sih abis setelah aku bilang kayak gitu dianya malahan mati gaya gitu. Tapi ya.. udahlah sekalian waspada sama orang yang belum dikenal .
            “Iya deh iya... aku Lani .Kamu?”cetusku tiba-tiba setelah kami saling berdiam diri cukup lama.Sudenly, ada rasa kaget di mukanya yang cool itu. “Kamu Lani?”. Wajah cowok itu mengungkapakan kebingungan yang terlalu kentara buatku.
            “Bingung deh aku . Diberitahu kok malah ngak percaya” desisku pelan.
            “Iya ,aku Lani. Kalo kamu?”ulangku sekali lagi.”Aku....anu...itu.Aku Tio” si cowok gelagepan. ”Nah gitu aja susah” cengirku.
            “Mbak mas ini wedang rondenya” kata si mbak pemilik angkringan. ”Oh ya mbak ini sekalian uangnya” ulurku sambil mengulurkan selelmbar lima ribuan.” Nggak usah, pake ini aja mbak. ‘’Ini saya sama si mbak ini”Tio menunjuk ke arahku sambil senyum ke si Mbak angkringan.
            “Oh ya mas, kalo butuh apa-apa tinggal bilang aja” jawab si mbak dengan intonasi super lembut. Ih si mbak ini kalo liat orang cakep aja ganjennya setengah mati.
            “Eh makasih ya”  aku setengah berbisik. ”Iya ,sama-sama.Yuk diminum”.
            Aku kaget. Kami sama-sama menjangkau gelas yang sama. Tanganku dan tangannya bersentuhan. Ada sesuatu yang berdesir di dalam sini. Tatapan kami bertemu saat itu, aku nggak tahu apa yang sedang ada di otakku saat itu. Tapi yang jelas dia menatapku begitu dalam. Aku baru menyadari sesuatu,tatapannya mirip sama orang yang aku tunggu selama ini.
            Tapi, tentu saja bukan dia. Tio terlalu keren untuk kusamakan dengan Ardi. Tatap yang dalam dan melindungi.
            “Eh sorry, ini buat kamu aja” cengir dia mengagetkan lamuananku. Ups, jadi malu sendiri aku ketahuan ngliatin dia. ”Kamu?”. ”Kan masih ada yang satunya”ujarnya tenang.
            Wadaw malunya kau,Lan. Udah ketahuan ngeliatin masih tiba-tiba jadi loading lama seperti ini. Bisik hatiku menyalahkan.
            “Makasih “ujarku kaku. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Senyum yang membuat orang yang baru saja melihatnya akan nyaman bila berurusan dengannya.
            Aku menunduk malu. Samar kucium wangi parfumnya . Benar-benar menyejukkan.
“Tio pake parfum apa ya?” batinku nakal.
            Aduh parah Lani kok jadi ngelantur gini sih. Aku bakal sembuh kok Van. Karena aku sadar aku masih punyamu.
            Pertemuanku dengan Tio sore itu diakhiri dengan saling tukar-menukar no handphone.
            Sebenarnya aku sih tidak terpikir untuk melanjutkan perkenalan itu untuk menjadi sebuah perkenalan. Karena bisa-bisa dengan kekerenannya itu aku tidak akan bisa menjaga hatiku yang memang sedang kacau ini.
            Tapi ya sudahalah. Tio sendiri yang menawarkan padaku. Masa ditolak?
***
            “Mbak, tadi Kak Devan nelfon. Tiga kali. Tapi Mbak Lani nggak tahu kemana. Kata Kak Devan, Mbak Lani diminta nelfon kalo dah dateng”.Ira.
            Lama aku memperhatikan number list satu ini. Devan. Akankah aku menelponnya sekarang? Devan.... kenapa sih kamu harus menyakiti aku dengan cara seperti itu.
            “Halo” ujarku akhirnya setelah melakukan perdebatan panjang dalam hati. ”Halo Lan”
Suara diseberang terdengar begitu lega.
            “Kamu kenapa nelpon, bukannya kita dah selesai?” kata-kataku kali ini terdengar lebih mantap. Walau di ujung hatiku yang terdalam ada luka yang menganga. Perih.
            Suaranya terdengar begitu terkejut mendengar jawabanku tadi. ”Lan,aku... aku bakalan jelasin semuanya. Please Lan. Percaya sama aku itu cuma salah paham.”
            “Salah paham ! Salah paham kamu bilang Van? Semua udah jelas, kamu balik sama Sisi dan aku pergi. Fair!!!”. Keras kutahan emosi ini yang tiba-tiba meledak-ledak begitu saja.
            “Nggak bisa gitu Lan. Believe me. I love you so much. Kalaupun kita putus kita harus putus baik-baik. Nggak dengan kesalahpahaman seperti ini.”
            “Oke, kalau memang kita putus membuat hidupmu lebih bahagia. Aku akan putus sama kamu. Tapi tolong berikan aku kesempatan  buat ngejelasin semua itu.” .Dia lagi.
            Apa dia bilang, aku bakal bahagia kalau aku putus sama dia? Seandainya kamu tahu Van, saat ini hatiku sedang hancur lebur menghadapi kenyataan yang terjadi. Bahkan mungkin lebih hancur daripada apa yang terjadi sama kamu.
            Air mata itu turun begitu saja. Membuat suatu aliran yang dengan cepat beranak pinak.
            “Terserah kamunya aja lah Van”kataku lirih sebelum akhirnya aku menutup percakapan malam itu.
            Sumpah, mataku tak bisa terpejam malam ini. Menguak memori-memori lamaku dengan Devan. Cowok yang sudah menemaniku empat tahun terakhir ini.
            Kuakui, bersamanya membuat hatiku sedikit demi sedikit melupakan sosok yang selama ini kunantikan. Walau tak sepenuhnya.Lembut sikapnya. Orang yang selalu setia dan sabar menghadapi semua keluh kesahku di kampus.
            Jujur, aku tak pernah menyangka kisah kami akan berakhir setragis ini. Apakah aku sanggup melupakan semua kenangan –kenangan indah kami? Setelah dia berhasil mencairkan hatiku yang membeku dengan seseorang  yang ditunguku selama ini. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
            Bantalku sudah basah total dengan airmata yang terus mengalir.Bagaimana aku harus menyalahkan Devan yang  telah pergi meninggalkanku kalau kesalahan itu memang aku yang membuatnya sendiri.
            Sebulan yang lalu
***



            Pohon Cinta Lani dan Devan (08.00WIB)
            Semilir angin yang menyejukkan, perlahan  menerbangkan ranbutku yan terlepas dari  jalinannya. Sesejuk pikiranku saat ini. Selalu begitu,jika aku melihatnya. Devan.
            “Van aku harus pergi” ucapku perlahan.” Kamu, pergi?” desisnya. ”Kemana?” ”Rencanaya sih ke Padang dan sekitarnya. Ada tugas pendalaman seluk beluk budaya Nusantara.” ”Seberapa lama”. ”Dua minggu”.......
            Devan selalu begitu. Cemas akan keadaanku bila kami tidak akan bertemu dalam waktuyang cukup lama.
            “Tenang saja ada Dela, Arimbi, Arum,Tisa,Naufal,Tomi,dan Reza....”mengucapkan satu suku kata terakhir menjadi sangat berat bila aku harus mengucapkannya di depan Devan.
            “Reza....”wajahnya mengeras. Seakan-akan akan ada sebuah batu besar yang menimpanya.
            “Van, kamu tahu kan ini tugas kelompok. Dan dia yang paling ahli  buat urusan mencari lokasi yang bagus” lidahku tercekat.
            “Iya aku tahu, kamu nggak akan mungkin memilih Reza. Dan kita nggak akan mungkin berpisah . Aku tahu itu. Tapi apa nggak sebaiknya kamu pilih kelompok yang lain saja?”
            “Kelompok yang lain sudah penuh. Lagian disini ada banyak teman yang bisa kuandalkan untuk menjauh dari dia”. ”Tapi Lan, kalo seandainya kamu tahu, dia pernah bilang ke aku kalau dia suka kamu. Dan akan berusaha buat ngedapetin kamu. Bagaimanapun caranya”
            Aku menatap wajahnya lekat. Mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi dari hitam matanya. ”Kamu percaya aku?” ucapku lembut.
            Mata itu kembali melembut. Sinarnya membuat aku masuk ke dalamnya. Jauh di dalam sana.Ada kasih sayang dan pengorbanan yang membuatku percaya dengan jawabannya.
            “Aku percaya kamu”senyumnya khas ,senyum simpul yang susah sekali kudapatkan selain dari Devan.
            Buatku satu ungkapan paling terakhir sudah bisa membuatku tersenyum lega. Dan kini aku bisa kembali merasakan tiupan-tiupan angin di bawah pohon cinta kami. Pohon cinta Lani dan Devan.
            Bagaimanapun juga Devan adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidupku empat tahun terakhir ini. Dia yang dengan kesabarannnya membantuku dalam menghadapi setiap masalah di kampus yang menggunung tak terhitung jumlahnya.
            Dia yang dengan rasa pengorbanannya mengorbankan waktunya buat dengerin tetek bengek masalah-masalahku.
            Dia yang dengan kesetiaan dan kerelaannya mampu menerima aku yang masih menunggu seseorang dari masa laluku.
            Dia yang mengerti bahwa dari awal kami bertemu hati ini tak sepenuhnya miliknya.
            Dia yang selalu berkata ”kesabaran menanti kamu buat mencoba benar-benar melihatku  tanpa harus melihatnya lagi pasti akan datang suatu hari nanti”
            Mau dibuang kemana cowok sebaik ini. Dan aku sadar Devan adalah satu dari seribu cowok yang bisa menerimaku apa adanya tanpa harus melihat kecantikan dan kecerdasanku.
            Jadi kesimpulannya aku harus menjaganya agar  dia tetap ada di sampingku.
***
            Tapi satu hal yang membuat semuanya harus kandas bahkan hancur di tengah jalan seperti sekarang ini.
            Satu kesalahan paling fatal yang pernah terjadi dalam hidupku selama ini.
            Aku tak berusaha untuk sedikit saja membalas apa yang dia berikan untukku, hingga akhirnya dia jenuh dengan segala ketidakpastian ini. Mungkin.
            Dan, janji itu,tidak berlaku untuk hal ini. Janjinya untuk selalu sabar menanti aku untuk benar-benar melihatnya tanpa harus ada yang lain di sampingnya. Janji itu sudah batal sekarang.
            Dan aku memahaminya. Sangat memahaminya. Memahami bahwa kesabaran itu ada batasannya ,dan dia berhak untuk mendapatkan kepastian dan balasan dari perasaan tulusnya. Dari selain aku tentunya.
            Sisi. Sepupunya. Cewek itu yang pantas untuk  cowok sebaik Devan , bukan aku.
            Dan memang kisah tentang asmara mereka sudah aku tahu sejak lama dan menjadi hal yang sangat basi bila aku harus menceritakannya sekarang.
            Perih. Luka ini belum juga sembuh. Devan. Kenapa harus ada rasa sakit yang tercipta saat aku terpaksa melepasnya??? Kenapa???
            Kemana Lani yang tegar dan selalu ceria menghadapi rentetan masalah-masalah di kampus? Kemana perginya Lani , sarjana Psikologi yang berhasil lulus dengan gelar cum laude?  Kemana semua intelektual yang selama  ini selalu dibangga-banggakan.


.              



This entry was posted in